Indonesia Guncang Program Jet Tempur KF-21, Hentikan Produksi Bersama Pilih Beli Jadi
📅 Senin, 29 Jun 2026, 13:30 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SJAKARTA – Pemerintah resmi mengubah strategi dalam program pesawat tempur KF-21 Boramae. Setelah lebih dari satu dekade terlibat sebagai mitra pengembangan, Indonesia memutuskan tidak lagi ikut memproduksi jet tempur tersebut dan memilih membeli pesawat yang sudah jadi dari Korea Selatan.
Keputusan itu dikonfirmasi Kementerian Pertahanan pada 26 Juni. Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Yusuf Jauhari, menyatakan Indonesia tidak lagi melanjutkan skema produksi bersama, melainkan akan menjadi pembeli langsung KF-21.
Dari Defense Security Asia, kangkah ini mengakhiri ambisi Indonesia yang sejak 2010 bergabung dalam proyek KF-X/IF-X dengan harapan memperoleh alih teknologi, hak produksi, hingga penguatan industri dirgantara nasional melalui PT Dirgantara Indonesia.
Pada awal kerja sama, Indonesia berkomitmen menanggung sekitar 20 persen biaya pengembangan atau sekitar 1,2 miliar dolar AS. Namun, keterbatasan anggaran, keterlambatan pembayaran, serta perubahan prioritas modernisasi pertahanan membuat komitmen tersebut beberapa kali dinegosiasikan ulang.
Dalam kesepakatan terbaru, kontribusi Indonesia dipangkas menjadi sekitar 440 juta dolar AS, sementara Korea Selatan menanggung sebagian besar kekurangan dana agar program KF-21 tetap berjalan sesuai jadwal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski tidak lagi menjadi mitra pengembangan, Indonesia tetap akan memperoleh sejumlah manfaat industri. PT Dirgantara Indonesia masih berpeluang terlibat dalam pemeliharaan, perbaikan, overhaul, serta penyediaan komponen dan dukungan operasional armada KF-21 di masa depan.
Keputusan ini juga dinilai mencerminkan perubahan strategi pemerintah yang lebih mengutamakan kesiapan operasional dibanding investasi jangka panjang dalam pengembangan pesawat tempur.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalokasikan anggaran besar untuk memperkuat TNI AU, termasuk pembelian 42 pesawat tempur Rafale dari Prancis. Dengan membeli KF-21 secara langsung, pemerintah dapat mempercepat penguatan armada tanpa harus menanggung biaya pengembangan yang jauh lebih besar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi Korea Selatan, keputusan Indonesia tetap membawa keuntungan strategis. Jika pembelian terealisasi, Indonesia akan menjadi pelanggan ekspor pertama KF-21 Boramae, sebuah pencapaian penting bagi Seoul yang tengah berupaya menembus pasar pesawat tempur dunia.
Laporan yang beredar menyebut Indonesia berpotensi membeli 16 unit KF-21 Block II, varian yang memiliki kemampuan lebih baik dalam misi serangan darat dan anti-kapal. Kemampuan tersebut dinilai sesuai dengan kebutuhan Indonesia untuk menjaga wilayah maritim yang luas, termasuk kawasan Natuna.
Sebagai bagian dari kesepakatan baru, Korea Selatan juga akan menyerahkan satu prototipe KF-21 kepada Indonesia. Pesawat itu akan dimanfaatkan untuk pelatihan pilot, evaluasi teknis, serta persiapan operasional sebelum pesawat produksi mulai diterima.
Meski status Indonesia berubah dari mitra pengembang menjadi pelanggan, kerja sama pertahanan kedua negara dipastikan tetap berlanjut. Bagi Indonesia, skema baru ini dinilai lebih realistis karena mampu memperkuat kekuatan udara nasional tanpa membebani anggaran negara dengan biaya pengembangan jangka panjang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!