Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Kaji Berbagai Skema Pembayaran Kuliah

📅 Rabu, 06 Mar 2024, 03:03 WIB | Oleh:
Pemerintah Kaji Berbagai Skema Pembayaran Kuliah Doc: Koran Jakarta/M.Ma'ruf
Ket. Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan, Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam.

Pemerintah tengah mengkaji berbagai skema pembayaran kuliah yang nantinya diimplementasikan untuk meringankan beban mahasiswa dan orang tua.

JAKARTA - Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan, Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam, mengatakan pemerintah tengah mengkaji berbagai skema pembayaran kuliah. Dia berharap, skema yang nanti diimplementasikan bisa meringankan beban mahasiswa dan orang tua.

"Dengan skema tersebut maka akses perguruan tinggi tidak akan terkendala dengan ekonomi orang tua," ujar Nizam, dalam Forum Diskusi Cempaka bertema "Mengupas Skema Terbaik dan Ringankan Pendanaan Mahasiswa", di Universitas YARSI, Selasa (5/3).

Dia menerangkan, pemerintah menyediakan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk masyarakat tidak mampu mengakses pendidikan. Hanya saja, program itu tidak bisa diakses masyarakat kelas menengah. "Di sinilah saat-saat kita perlu mencari skema pendanaan yang baik yang tidak kemudian menjadikan mahasiswa terjerat utang seumur hidup," jelasnya.

Skema Pinjaman

Nizam mengungkapkan, dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi ada juga dukungan selain beasiswa yaitu pinjaman tanpa bunga. Skema tersebut tengah dikaji di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Dia menyatakan, beberapa skema pinjaman tidak berjalan mulus. Begitu juga dengan Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) di tahun 1980-an sebab tingkat gagal bayar atau default rate yang tinggi sekali.

"Saat itu perbankan kewalahan karena ijazah ditahan, tapi pengembalian para peminjam tidak bisa tertagih. Dengan kondisi tersebut, dunia perbankan mesti berpikir 1000 kali untuk menjalankan lagi," katanya.

Nizam menyebut, Australia memiliki skema pinjaman yang dianggap ramah bagi mahasiswa dan tingkat gagal bayarnya rendah. Proses pengembalian pinjaman melalui skema potongan ketika mahasiswa sudah memiliki pendapatan yang layak.

"Potongannya misalnya 5 persen. Nanti bisa meningkat persentasenya sesuai jumlah gaji yang didapat. Semakin tinggi penghasilannya nanti pemotongannya semakin besar," ucapnya.

Nizam mengatakan, skema tersebut sudah diadopsi di beberapa negara lain. Menurutnya, jika skema tersebut diterapkan di Indonesia bisa mendorong kemandirian mahasiswa.

"Di negara lain usia 18 tahun sudah dilepas orang tua dan untuk kuliah mereka ambil pinjaman sehingga betul-betul bisa 'berdikari' meski masih kuliah. Ini mendorong produktivitas, kinerja, dan mendorong mahasiswa cepat lulus dan bekerja dan dapat income yang bagus," terangnya. ruf/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2

PDIP Jatim Bidik Kursi Gubernur pada Pemilu 2029

2 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
PDIP Jatim Bidik Kursi Gube...
Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.