Tren Kenaikan Harga Beras Masih Terus Berlanjut
📅 Sabtu, 02 Mar 2024, 00:09 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY
» Berapa pun kenaikan harga beras akan dibeli, dan kenaikan beras itulah yang mengerek harga barang lain ikut naik.
» Badan Pangan Nasional harus bertanggung jawab menjaga keterjangkauan harga beras di masyarakat bawah.
JAKARTA - Kenaikan harga beras sejak Juni 2023 atau sudah hampir sembilan bulan, hingga saat ini belum bisa dikendalikan. Belum terkendalinya harga komponen kebutuhan pokok paling utama itu terlihat pada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan beras tetap sebagai penyumbang inflasi bulanan terbesar pada Februari 2024 lalu.
Deputi bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, di Jakarta, Jumat (1/3), mengatakan tren inflasi komoditas beras masih berlanjut hingga Februari, dengan inflasi mencapai 5,32 persen.
"Komoditas penyumbang inflasi bulanan atau month to month (mtm) pada Februari 2024 adalah beras dengan andil 0,21 persen," kata Habibullah.
Sebaiknya Anda baca juga:
BPS mencatat inflasi bulan Februari 2024 sebesar 0,37 persen, sedangkan secara tahunan atau inflasi Februari 2024 dibanding Februari 2023 tercatat 2,75 persen dan inflasi tahun berjalan atau year to date (ytd) 0,41 persen.
Habibullah mengatakan kenaikan harga beras hampir dirasakan di semua provinsi, tepatnya di 37 dari 38 provinsi di Indonesia yang ada saat ini.
Secara umum, jelasnya, komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 1,53 persen dengan andil lebih tinggi yaitu 0,25 persen dibanding komponen lainnya yaitu inflasi inti 0,09 persen dan inflasi harga yang diatur pemerintah 0,03 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain beras, komoditas pangan lainnya yang menjadi faktor pendorong inflasi Februari adalah cabai merah dengan andil 0,09 persen, telur ayam ras 0,04 persen, serta daging ayam ras 0,02 persen.
Khusus cabai merah, inflasi tercatat di setiap level perdagangan, di mana inflasi pada produsen perdesaan sebesar 4,56 persen, grosir 16,01 persen, dan eceran 17,78 persen. Kenaikan harga cabai merah di tingkat eceran sejalan dengan kenaikan harga di produsen perdesaan dan grosir.
Sedangkan inflasi komoditas telur dan daging ayam ras didorong oleh kenaikan harga pakan ternak ayam, yang mengalami inflasi 0,36 persen untuk bahan pakan dedak, 0,80 persen untuk jagung pipilan, 0,04 persen untuk bekatul, dan 0,22 persen untuk bungkil.
Menanggapi tren kenaikan harga beras itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan pemerintah ke depan harus mengantisipasi kenaikan harga beras karena ada momen bulan Puasa dan Lebaran yang bisa tambah memicu kenaikan harga.
"Komoditas beras merupakan kebutuhan pokok dan sebagian besar masyarakat makan nasi sehingga permintaan beras bersifat inelastis. Artinya, berapa pun kenaikan harga beras akan dibeli, dan kenaikan harga beras mendorong kenaikan harga barang lain jadi terjadi inflasi," kata Esther.
Sebab itu, penting untuk menjaga pasokan beras di Indonesia agar harga beras stabil dan tidak inflasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!