Belajar dari Yogya, Bagaimana Promosikan Partisipasi dan Inklusi Sosial di Kampung Kota
📅 Jumat, 01 Mar 2024, 10:50 WIB | Oleh: Tim PenulisPartisipan pengguna kursi roda berusia 83 tahun yang kami wawancara bercerita bahwa ia masih mendapatkan undangan untuk menghadiri rapat warga, namun ia tidak diharuskan untuk datang.
"Tadi malam ada pertemuan (RT), saya sudah enggak pernah datang. (Masih) Mendapat undangan tapi enggak datang. Seumpama mau datang ya boleh", katanya.
Partisipan lain, 65 tahun, mengatakan bahwa ia selalu hadir dalam gotong-royong, namun perannya hanyalah sebatas penonton daripada menjadi peserta aktif. Karena memiliki keterbatasan mobilitas, warga memintanya untuk sekadar duduk dan mengobrol dengan warga lain, meski ia merasa bisa membantu menyelesaikan pekerjaan ringan.
Pemakluman, atau maklum dengan kondisi atau keadaan seseorang, merupakan hal yang umum dalam kultur masyarakat Jawa. Akan tetapi, pemakluman merupakan faktor yang dapat melanggengkan eksklusi penyandang disabilitas secara samar karena mereka tidak diekspektasikan untuk hadir dan berpartisipasi secara aktif dalam agenda kampung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melibatkan penyandang disabilitas secara aktif dalam agenda kampung sesuai dengan kemampuannya perlu dilakukan untuk menghindari menguatnya rasa ketidakberdayaan, perasaan menjadi beban, dan putusnya ikatan sosial mereka dengan komunitas.
Pembelajaran
Membangun kota yang inklusif hendaknya tidak hanya berorientasi pada infrastruktur saja, melainkan juga harus mempertimbangkan signifikansi aspek sosio-kultural dan dimulai dari bawah. Meski saat ini, konsep kota inklusi masih berbeda-beda, aspek sosio-kultural menjadi penting untuk dipertimbangkan, mengingat hubungan dan interaksi sosial di kampung kota masih dipandu oleh nilai-nilai kultural.
Sebaiknya Anda baca juga:
Temuan riset ini menjelaskan bagaimana interaksi antara penyandang disabilitas dengan faktor sosio-kultural di kampung kota dapat mewarnai narasi inklusi dan eksklusi. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi referensi bagaimana menciptakan kota yang inklusif bagi penyandang disabilitas dengan mempertimbangkan konteks lokal.
Peran serta komunitas kampung kota melalui aksi-aksi baik yang sederhana, sikap positif dan afektif, serta memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk berpartisipasi aktif dalam acara kampung merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keterbauran dan inklusi sosial di kampung secara khusus, dan di kota secara umum.![]()
Lambang Septiawan, PhD Student - School of Geography, Earth, and Atmospheric Sciences, The University of Melbourne
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!