Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Belajar dari Yogya, Bagaimana Promosikan Partisipasi dan Inklusi Sosial di Kampung Kota

📅 Jumat, 01 Mar 2024, 10:50 WIB | Oleh: Tim Penulis

Pengalaman ini membuatnya enggan untuk melakukan aktivitas di luar rumah pada siang hari saat lingkungan kampung ramai karena ia takut hal yang sama akan terulang kembali.

Kedua cerita di atas menggambarkan bahwa perilaku ngalah dapat mengakomodasi munculnya sikap positif dan afektif dari orang lain. Sikap inilah yang akan mendorong inklusi sosial dan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari, menutup pintu terjadinya eksklusi bagi penyandang disabilitas dalam arena publik.

Sebaliknya, praktik-praktik kurang baik seperti mengejek dan membunyikan klakson di jalan akan mendorong eksklusi penyandang disabilitas dan membuat mereka merasa tidak diinginkan kehadirannya di komunitas sekitar.

Perilaku ngalah juga dapat diterapkan dalam konteks lain, misalnya dengan memprioritaskan tempat duduk bagi penyandang disabilitas di acara hajatan kampung atau mempersilakan mereka masuk terlebih dahulu ke tempat ibadah.

Cara-cara sederhana ini merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat penyandang disabilitas sehingga mereka dapat menjadi bagian dari komunitas masyarakat di kampung kota secara utuh.

'Saling' menciptakan hubungan relasional

Saling dapat diartikan sebagai aksi timbal balik yang dilakukan antar individu seperti praktik peduli sesama atau tolong-menolong. Wawancara kami menunjukkan bahwa partisipan mempercayai saling sebagai nilai etika standar yang harus dipraktikkan baik oleh penyandang maupun bukan penyandang disabilitas.

Saling bukan hanya membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan asistensi baik dari anggota keluarga, teman, atau tetangga di sekitar rumah, namun juga mendapatkan dukungan untuk menegosiasi hambatan sehari-hari.

Partisipan kami bercerita bahwa warga kampung peduli dengan penyandang disabilitas yang ditandai dengan aksi-aksi baik yang mereka terima, seperti kerelaan untuk mengantar ke pasar, atau menyapa saat bertemu saat aktivitas jalan pagi.

Salah satu partisipan kami, usia 66 tahun, mengatakan "Ada tetangga. Tetangga mau (mengantar), Mas. Misalnya, tolong saya diantar (ke pasar). Banyak yang mau".

Kebaikan-kebaikan kecil yang dirasakan oleh partisipan merupakan cerminan hubungan relasional mereka dengan kampung kota. Hal inilah yang akhirnya menumbuhkan kepercayaan dan berkontribusi meningkatkan ikatan partisipan dengan komunitas kampung.

Pemakluman: eksklusi yang samar

Pemakluman merupakan kata yang kerap digunakan oleh partisipan kami untuk menggambarkan sikap komunitas yang mempersilakan penyandang disabilitas tidak menghadiri aktivitas kampung seperti gotong-royong, kerja bakti, pengajian, dan arisan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Qatar Dorong Negara Teluk H...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.