Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ini Alasan Orang Berperilaku Buruk di Aplikasi Kencan

📅 Senin, 12 Feb 2024, 11:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ini Alasan Orang Berperilaku Buruk di Aplikasi Kencan Doc: The Conversation/Shutterstock/Studio Romantic
Ket. Bukan hal yang aneh jika orang menggunakan aplikasi kencan saat menjalin hubungan.

Martin Graff, University of South Wales

Kencan online dan aplikasi kencan telah mengubah cara kita memulai, membentuk, dan mengakhiri hubungan romantis. Kita mungkin juga mempertanyakan apakah kenyamanan dari aplikasi-aplikasi ini telah mendorong kita berperilaku berbeda dari yang kita lakukan di "kehidupan nyata". Lebih khusus lagi, apakah aplikasi kencan melahirkan perilaku buruk atau antisosial?

Jika kamu menggunakan aplikasi kencan, mungkin kamu pernah mengalami "di-ghosting" (seseorang tiba-tiba berhenti menghubungimu) - atau mungkin kamu sendiri yang meng-ghosting seseorang. Mungkin karena kamu mengetahui bahwa seseorang yang kamu ajak mengobrol di aplikasi kencan ternyata sudah memiliki pacar. Atau jika kamu tidak menggunakan aplikasi-aplikasi ini, kamu mungkin pernah mendengar cerita-cerita tersebut dari teman.

Mari kita lihat beberapa perilaku buruk yang paling sering muncul - dan bagaimana psikologi menjelaskannya.

Salah satu tema utama yang dilihat adalah seberapa umum orang menggunakan aplikasi kencan ketika sedang menjalin hubungan. Data dari Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa sekitar 42% orang yang memiliki profil Tinder sedang berpacaran atau sudah menikah.

Dalam sebuah penelitian terhadap mahasiswa sarjana di AS, sekitar dua pertiga mengungkapkan bahwa mereka menemui seseorang di Tinder yang mereka tahu sedang menjalin hubungan. Lebih lanjut, 17% partisipan mengatakan bahwa mereka mengirim pesan kepada seseorang di Tinder ketika sedang menjalin hubungan. Bahkan, 7%-nya terlibat hubungan seksual dengan seseorang yang mereka temui di Tinder meski sedang menjalin hubungan.

Ada juga bukti bahwa orang-orang menggunakan aplikasi kencan untuk mempertahankan apa yang disebut sebagai hubungan "backburner". Ini adalah ketika seseorang di aplikasi kencan mempertahankan kontak dengan orang lain dengan harapan suatu hari nanti akan melakukan sesuatu yang romantis atau seksual.

Yang mengejutkan, studi tahun 2018 di AS yang melibatkan 658 mahasiswa sarjana,, menemukan bahwa jumlah backburner yang dilaporkan tidak berbeda secara signifikan antara mereka yang masih lajang, berpacaran biasa, atau dalam hubungan yang berkomitmen. Sekitar 73% dari semua responden melaporkan bahwa mereka memiliki setidaknya satu backburner.

Komunikasi online, tentu saja, membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Para peneliti telah menyarankan bahwa pemeliharaan hubungan dalam hubungan backburner melibatkan kepositifan (bersikap baik pada orang lain dan memastikan bahwa interaksi dengan mereka seru dan menyenangkan), keterbukaan (mengungkapkan informasi pribadi pada mereka, bahkan mungkin berbagi rahasia), dan jaminan (menunjukkan harapan agar hubungan tersebut dapat bertahan dari waktu ke waktu).

Kencan online juga membuat ghosting menjadi lebih mudah. Sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa responden telah meng-ghosting 29% orang yang mereka kencani, dan telah di-ghosting oleh 25% teman kencan mereka sendiri. Selain itu, 74% responden percaya bahwa ghosting adalah cara yang tepat untuk mengakhiri sebuah hubungan.

Partisipan dalam penelitian ini melaporkan adanya kasus ghosting yang tiba-tiba dan ghosting bertahap (memperlambat kontak sebelum menghilang sama sekali). Ghosting bertahap meningkatkan tingkat ketidakpastian bagi orang yang dihantui.

Ghosting mungkin sering terjadi karena mudahnya mengakhiri hubungan dengan cara ini, terutama jika pasangan belum pernah bertemu langsung. Para penulis dari studi yang sama juga menyoroti bahwa kencan online menawarkan banyak sekali kemungkinan pasangan, dan orang-orang yang "meng-ghosting" satu pasangan mungkin melakukannya lagi ke pasangannya yang lain.

Orang-orang tidak hanya menggunakan aplikasi kencan untuk mencari hubungan atau seks - banyak orang yang melaporkan bahwa mereka menggunakannya hanya untuk bersenang-senang. Dengan demikian, pengguna yang lebih tulus dari aplikasi-aplikasi ini dapat menjadi sasaran empuk bagi para troll, yang hanya ingin menciptakan konflik dan menyebabkan kesusahan pada pengguna online lainnya demi hiburan mereka sendiri.

Sebuah studi 2017 menemukan bahwa troll aplikasi kencan mendapat skor tinggi dalam ukuran perilaku sadis, yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap rasa sakit atau penderitaan yang ditimbulkan pada orang lain; dan skor tinggi dalam hal impulsif disfungsional, yang dicirikan dengan tidak menindaklanjuti janji-janji.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
PBB Desak Perusahaan AI Tra...
Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.