Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lebaran Sebentar Lagi, Hindari Pertanyaan Tak Berempati Saat Kumpul Keluarga

📅 Sabtu, 15 Mar 2025, 16:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Lebaran Sebentar Lagi, Hindari Pertanyaan Tak Berempati Saat Kumpul Keluarga Doc: Antara

Nelly Martin-Anatias, Te Kunenga ki P?rehuroa – Massey University dan Sharyn Graham Davies, Monash University

Momen di bulan Ramadan, terutama saat buka bersama, dan kumpul keluarga saat lebaran seharusnya menjadi momen yang bisa digunakan untuk mengenang kembali memori baik di masa lalu atau bersilaturahmi untuk bisa mengenal keluarga yang jarang ditemui. Dengan menjalin silaturahmi, kita bisa pula mempererat koneksi.

Sayangnya, di Indonesia, kini makin umum fenomena di mana perantau, termasuk diaspora, enggan pulang kampung ketika lebaran. Alasannya beragam, mulai dari biaya transportasi yang mahal hingga tidak mau bertemu keluarga besar.

Riset kami di Selandia Baru, sejak tahun 2019, menunjukkan bahwa faktor terbesar penyebab mereka tidak mau berkumpul bersama keluarga adalah menjamurnya pertanyaan basa-basi. Ini mencakup pertanyaan seperti “kapan punya anak?”, “kapan menikah?”, dan “kapan lulus kuliah?” yang berujung pada diskriminasi struktural dan bentuk pengucilan di Indonesia.

Basa-basi memang sudah menjadi bagian budaya Indonesia, karena memang tujuannya bukan sesuatu yang buruk dan dimaksudkan untuk bertanya hal-hal ringan. Namun, peserta penelitian kami mengungkapkan bahwa pertanyaan basa-basi yang mungkin datang dari maksud baik, sering kali membuat mereka merasa terkucil daripada merasa dirangkul dan merayakan kebersamaan.  

Basa-basi yang menyakiti

Peserta penelitian kami berjumlah 23 orang yang berasal dari Asia Tenggara dan Asia Selatan, termasuk dari Indonesia. Mayoritas negara asal mereka adalah negara heteronormatif, di mana menikah dan punya anak adalah sebuah konsensus sosial. Ini termasuk Indonesia.

Ada faktor kenormalan yang diasumsikan bahwa semua orang dianggap memiliki nilai-nilai hidup dan pengalaman yang sama, yaitu, setelah mencapai usia tertentu, diharapkan secara sosial sudah menikah, lalu mempunyai anak.

Kolektivisme yang dianut oleh kebanyakan orang Asia, termasuk Asia Tenggara, dapat menjadi tolak ukur di sini. Kebebasan atau pilihan individu seakan tidak terlihat.

Beberapa peserta penelitian kami yang merupakan diaspora mengakui bahwa mereka enggan untuk pulang kampung, termasuk untuk liburan, atau bertemu dengan keluarga besar mereka. Mereka mengatakan bahwa liburan ke kampung halaman yang sudah mereka rencanakan dengan baik, seringkali menjadi pengalaman yang tidak mengenakan. Salah satunya alasannya karena mereka sering mendapatkan pertanyaan, “sudah/kapan punya anak?” atau “putranya sudah berapa?”.

Salah satu informan kami, Sari (usia akhir 30 tahunan) dan suaminya, contohnya, mengaku trauma. Mereka telah menikah beberapa tahun tapi belum memiliki anak meski sudah melakukan banyak cara, termasuk medis, untuk mendapatkan keturunan.

Pertanyaan tersebut memang tidak memiliki maksud buruk, hanya basa-basi, tetapi akhirnya membangkitkan kesedihan dalam dirinya. Dengan pertanyaan ini, Sari seperti diingatkan kembali segala pengorbanan dan kesakitan, baik fisik maupun psikologis- yang ia alami saat proses IVF (bayi tabung) demi mendapatkan buah hati.

Belum lagi, ada pula pertanyaan atau komentar lain yang dimaksud sebagai candaan, namun dapat membuat orang lain tersinggung, karena bersifat pribadi dan instrusif seperti dengan mempertanyakan sebab musabab mengapa mereka susah diberikan keturunan atau mempertanyakan kejantanan suami/pasangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Nasional
MTQ Nasional XXXI Dibuka, M...
Olahraga
Formula 1: Lewis Hamilton K...
Advertisement
Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.