Program Gizi Nestle Indonesia Sukses Turunkan Prevalensi Underweight Anak Sebesar 22,5%
📅 Kamis, 05 Mar 2026, 00:05 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Nestlé Indonesia
JAKARTA – Nestlé Indonesia menutup rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 bersama seluruh mitra lintas sektor yang berperan dalam pelaksanaannya, yaitu Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers selaku mitra field officer. Momentum ini kembali menegaskan pentingnya intervensi gizi anak usia dini yang konsisten, terpantau, dan berbasis kolaborasi dalam mendukung pencegahan stunting di Indonesia.
Dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.
Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi, program menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5%, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.
Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Dr. Yuni Hastutiningsih, SKM., M.Kes menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan faktor kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting.
“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan oleh PT Nestlé Indonesia, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program. Oleh karena itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia,” ucapnya dalam acara penutupan Program Pendampingan Gizi 2025 di Jakarta pada hari Rabu (4/3).
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain perbaikan indikator pertumbuhan, program ini juga meningkatkan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin. Konsistensi pendampingan kader memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan makan yang lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi anak.
Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya tercermin dari capaian angka, tetapi dari perubahan perilaku yang berkelanjutan. Pihaknya percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek.
Program ini kada Ankur dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor. Bagi Nestlé, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, kami melihat perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga,” terangnya.
Program Pendampingan Gizi 2025 berfokus pada upaya pencegahan melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik. Intervensi dilakukan dengan mengombinasikan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi esensial berupa pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan.
Bukan hanya itu saja program tesebut, disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak. Dengan pendekatan pendampingan keluarga ini memungkinkan intervensi dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Dari perspektif akademis, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, menjelaskan bahwa pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan. Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5%.
“Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting,” terangnya.
Di lapangan, peningkatan pemahaman keluarga juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik gizi. Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja, menjelaskan bahwa sebagian keluarga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi dan variasi konsumsi anak secara optimal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!