Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Praktik dan Kebijakan Buruk Bakal Rugikan RI di Era AI

📅 Selasa, 16 Jan 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Praktik dan Kebijakan Buruk Bakal Rugikan RI di Era AI Doc: ISTIMEWA
Ket. artificial intel­ligence (AI)

WASHINGTON DC - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, sesaat sebelum berangkat ke Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Senin (15/1), mengatakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan berdampak pada 60 persen pekerjaan di negara-negara maju.

"Negara-negara maju, beberapa negara berkembang, akan terkena dampak sebesar 60 persen terhadap pekerjaan mereka," kata Georgieva dalam sebuah wawancara di Washington, seperti dilaporkan IMF.

Lebih lanjut, dia mengatakan di negara-negara berkembang juga berpengaruh sekitar 40 persen, dan di negara-negara berpenghasilan rendah berdampak sekitar 26 persen terhadap lapangan kerja. Secara keseluruhan, kehadiran AI berdampak pada hilangnya hampir 40 persen lapangan kerja global.

Dikutip dari The Straits Times, laporan IMF itu mencatat bahwa setengah dari pekerjaan yang terkena dampak AI akan terkena dampak negatif, sementara sisanya akan mendapatkan manfaat dari peningkatan produktivitas yang disebabkan oleh AI.

"Pekerjaan Anda mungkin hilang sama sekali hal ini tidak baik atau kecerdasan buatan dapat meningkatkan pekerjaan Anda, sehingga Anda sebenarnya akan lebih produktif dan tingkat pendapatan Anda mungkin meningkat," kata Georgieva.

Meskipun AI pada awalnya akan memberikan dampak yang lebih kecil terhadap negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang, menurut IMF, negara-negara tersebut juga cenderung tidak mendapatkan manfaat dari keunggulan teknologi baru itu.

"Hal ini dapat memperburuk kesenjangan digital dan kesenjangan pendapatan antarnegara," lanjut laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa pekerja yang lebih lama cenderung lebih rentan terhadap perubahan yang disebabkan oleh AI.

IMF melihat peluang penting untuk membuat kebijakan guna membantu mengatasi permasalahan ini.

"Kita harus fokus membantu negara-negara berpenghasilan rendah khususnya untuk bergerak lebih cepat agar dapat menangkap peluang yang akan dihadirkan oleh kecerdasan buatan," kata Georgieva.

"Dengan kata lain, terimalah, hal itu akan datang, jadi kecerdasan buatan ya, sedikit menakutkan. Namun, ini juga merupakan peluang besar bagi semua orang," pungkasnya.

Jangan Meremehkan

Menanggapi pernyataan Gerogieva, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan Indonesia tidak bisa meremehkan dampak dominasi kecerdasan buatan (AI) terhadap negara-negara yang masih terbelakang. Menurutnya, negara-negara ini akan semakin tertekan dalam nilai sumber daya manusia, khususnya pada faktor pertumbuhan ekonomi yang membutuhkan kualitas yang lebih baik.

Indonesia, yang terus berjuang dalam daya saing dan kualitas produktivitas di berbagai sektor industri dan layanan, dihadapkan pada potensi terhambatnya kemajuan tersebut. Aditya menyoroti isu-isu, seperti korupsi, nepotisme, dan inkompentensi dalam praktik dan kebijakan pemerintahan yang dianggapnya sebagai faktor penghambat.

Prioritas negara untuk pembangunan sektor industri nilai tambah dan penerapan teknologi mutakhir, paparnya, harus dimulai segera dengan komitmen sebagai haluan negara lima tahun ke depan sehingga tidak gonta-ganti dan digerogoti oleh korupsi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Perubahan Cuaca Benarkah Dapat Mengakibatkan Infeksi?

45 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Perubahan Cuaca Benarkah Da...
Megapolitan
Pembangunan SDM dan Pengemb...

Pantai Harus Tampak Indah, tak Boleh Kumuh

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pantai Harus Tampak Indah, ...
Megapolitan
Hadapi Musim Kemarau Panjan...
Olahraga
Dua Petenis Terus Bersaing ...
Olahraga
Indonesia Turun Full Team B...
Megapolitan
Kapal Kandas karena Air Sur...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.