Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

'Blue Food' Dikembangkan Bappenas Untuk Dongkrak Konsumsi Protein Masyarakat

24 Sabtu, 03 Okt 2026, 07:02 WIB | Oleh:
'Blue Food' Dikembangkan Bappenas Untuk Dongkrak Konsumsi Protein Masyarakat 'Blue Food' Dikembangkan Bappenas Untuk Dongkrak Konsumsi Protein Masyarakat Doc: ANTARA/Bayu Saputra
Ket. Pekerja tengah melakukan kegiatan di keramba jaring apung (KJA) milik PT Suri Tani Pemuka (Japfa) di Danau Toba, Sumatera Utara, Jumat (2/10/).

SAMOSIR, SUMATERA UTARA - Kementerian PPN/Bappenas mengembangkan konsep blue food atau pangan berbasis sumber daya perairan, khususnya ikan, untuk meningkatkan konsumsi protein masyarakat.

Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas Mohamad Rahmat Mulianda mengatakan pengembangan blue food menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan konsumsi ikan dengan menerapkan prinsip keberlanjutan yang terukur.

"Bagaimana supaya di negara kepulauan ini kita konsumsi ikannya, kita tingkatkan dengan produksi yang sebetulnya harus produksi yang ramah lingkungan," kata Rahmat saat meninjau keramba jaring apung (KJA) milik PT Suri Tani Pemuka (Japfa) di Danau Toba, Sumatera Utara, Jumat.

Menurut dia, blue food mencakup pangan yang berasal dari ekosistem laut maupun air tawar, seperti ikan, udang, kerang, rumput laut, dan biota perairan lainnya yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan gizi masyarakat.

Rahmat menjelaskan penerapan prinsip keberlanjutan dalam produksi blue food perlu mencakup pengendalian kualitas air dan pencemaran lingkungan.

"Dan, juga kegiatannya harus menjamin keberlanjutan secara tepat, artinya ada di ukurannya. Masalah kualitas air, masalah nanti pencemarannya seperti apa itu supaya bisa terkontrol," katanya.

Menurut Rahmat, pengembangan blue food di Danau Toba juga perlu memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi, ekologi, dan sosial.

Hal tersebut penting karena Danau Toba tidak hanya dimanfaatkan untuk perikanan, tetapi juga pariwisata, peternakan, transportasi, sumber air, dan kegiatan ekonomi lainnya.

"Ini tentunya sustainability itu harus saling seimbang satu sama lain. Dan kami selalu menekankan kepada semua pihak bahwa prinsip itu harus diterapkan di pengolahan Danau Toba ini karena ini merupakan kondisi yang sangat lengkap dan banyak sektor terkait di sini tidak hanya perikanan ya, ada pariwisata, ada juga peternakan, ada juga hutannya di daratan," jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo Adypurnama mengatakan pengembangan blue food merupakan bagian dari transformasi sistem pangan yang tengah dilakukan pemerintah.

"Ini sebenarnya menandakan bahwa tujuan kita mencapai swasembada pangan itu harus juga disertai dengan semua strategi yang memastikan produksi kita dalam pangan ini low emission, low water consumption dan lebih dapat mendukung dari keberlanjutan sumber daya alam dan daya dukung lingkungan," ujar Leonardo.

Ia mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumber protein yang relevan dari perairan.

Berdasarkan statistik Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), sekitar 55 persen sumber protein masyarakat Indonesia berasal dari ikan.

"Nah sekarang dengan program-program besar seperti MBG (makan bergizi gratis) dan sebagainya, ada kebutuhan juga untuk terus mendorong konsumsi protein yang memang masih rendah di Indonesia dan salah satunya adalah melalui blue food," katanya.

Leonardo mengatakan Bappenas bersama mitra pembangunan internasional, termasuk Stanford University, Uni Eropa, dan sejumlah mitra dari kawasan Asia Pasifik tengah mengembangkan Blue Food Assessment sebagai inisiatif riset untuk mendukung pengembangannya di Indonesia.

"Oleh karena itu, sebenarnya kami hadir di sini untuk melihat salah satu contoh. Salah satu contoh yang memastikan bahwa produksi dari ikan ini blue food yang memang menjadi komponen penting bagaimana Indonesia mentransformasikan sistem pangan itu sudah didukung dengan pola-pola yang baik, termasuk inisiatif dari perusahaan seperti Japfa," ujarnya. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Daerah
Banjir Luapan Sungai di Ace...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.