Kecerdasan Buatan Temukan Calon Antibiotik Baru
📅 Kamis, 28 Des 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Wikimedia
Dengan menggunakan sebuah penelitian, kecerdasan buatan mampu mengidentifikasi kandidat antibiotik kelas baru. Senyawa ini dapat membunuh bakteri MRSA yang resisten terhadap metisilin, penyebab infeksi mematikan.
D
i Amerika Serikat (AS) lebih dari 10.000 kematian setiap tahunnya oleh resistensi bakteri. Di negara ini Staphylococcus aureus (MRSA), bakteri yang resisten terhadap obat, menginfeksi lebih dari 80.000 orang setiap tahun. Bakter ini seringkali menyebabkan infeksi kulit atau pneumonia. Kasus yang parah dapat menyebabkan sepsis, infeksi aliran darah yang berpotensi fatal.
Untuk mengatasi MRSA yang resisten terhadap obat, para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah menemukan sekelompok senyawa yang dapat membunuh bakteri yang resisten terhadap obat. Dalam menemukan senyawa tersebut mereka menggunakan jenis kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang mampu melakukan pembelajaran secara mendalam (deep learning).
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature beberapa waktu lalu, para peneliti menunjukkan bahwa senyawa ini dapat membunuh MRSA. Bakteri ini termasuk dalam kelompok bakteri Staphylococcus yang jika dilihat di bawah mikroskop berbentuk bulat-bulat yang mirip seperti anggur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada penelitian itu MRSA dikenal resisten terhadap metisilin ditumbuhkan di piring laboratorium selanjutnya diberikan pada dua model tikus yang terinfeksi MRSA. Senyawa ini juga menunjukkan toksisitas yang sangat rendah terhadap sel manusia, menjadikannya kandidat obat yang baik.
Inovasi utama dari studi baru ini adalah para peneliti juga dapat mengetahui jenis informasi apa yang digunakan model pembelajaran mendalam untuk membuat prediksi potensi antibiotik. Pengetahuan ini dapat membantu peneliti merancang obat tambahan yang mungkin bekerja lebih baik daripada obat yang diidentifikasi dalam model.
"Pemahamannya di sini adalah kita bisa melihat apa yang dipelajari oleh model untuk membuat prediksi bahwa molekul tertentu akan menghasilkan antibiotik yang baik. Pekerjaan kami menyediakan kerangka kerja yang hemat waktu, hemat sumber daya, dan berwawasan mekanis, dari sudut pandang struktur kimia, dengan cara yang belum pernah kami lakukan hingga saat ini," kata Profesor Teknik Medis dan Sains Termeer di Institut Teknik dan Sains Medis (IMES) MIT dan Departemen Teknik Biologi, James Collins.
Sebaiknya Anda baca juga:
Collins menuliskan penelitiannya bersama Felix Wong, seorang peneliti S-3 di IMES dan Broad Institute of MIT dan Harvard, dan Erica Zheng, mantan mahasiswa pascasarjana Harvard Medical School yang menjadi penulis utama penelitian ini.
Collins menerangkan, tim tersebut merupakan bagian dari Proyek Antibiotik-AI di MIT. Misi proyek ini, yang dipimpin oleh Collins adalah menemukan kelas antibiotik baru terhadap tujuh jenis bakteri mematikan, selama tujuh tahun.
Selama beberapa tahun terakhir, Collins dan rekan-rekannya di Klinik Abdul Latif Jameel untuk Pembelajaran Mesin di fakultas Kesehatan MIT telah mulai menggunakan pembelajaran mendalam untuk mencoba menemukan antibiotik baru. Pekerjaan mereka telah menghasilkan obat yang potensial untuk melawan Acinetobacter baumannii, bakteri yang sering ditemukan di rumah sakit, dan banyak bakteri yang resisten terhadap obat lainnya.
Senyawa tersebut diidentifikasi menggunakan model pembelajaran mendalam yang dapat belajar mengidentifikasi struktur kimia yang terkait dengan aktivitas antimikroba. Model-model ini kemudian menyaring jutaan senyawa lain, menghasilkan prediksi senyawa mana yang mungkin memiliki aktivitas antimikroba kuat.
Jenis penelusuran ini telah terbukti membuahkan hasil. Namun salah satu keterbatasan pada pendekatan ini adalah modelnya bersifat "kotak hitam", yang artinya tidak ada cara untuk mengetahui fitur apa yang menjadi dasar prediksi model tersebut. Jika para ilmuwan mengetahui bagaimana model tersebut membuat prediksi, akan lebih mudah bagi mereka untuk mengidentifikasi atau merancang antibiotik tambahan.
"Apa yang ingin kami lakukan dalam penelitian ini adalah membuka kotak hitam," kata Wong. "Model-model ini terdiri dari sejumlah besar kalkulasi yang meniru koneksi saraf, dan tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di baliknya," kata dia dikutip laman MTI.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!