Segera Bangun 'Grand Design' Jangka Panjang Pembangunan Pertanian dan Pangan
📅 Kamis, 14 Des 2023, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/GUSTI TANATI
JAKARTA - Kepala Negara mengingatkan kepada seluruh pihak terkait agar harga cabai rawit tidak lagi mencapai 100 ribu rupiah per kilogram. Sebab itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Babinsa seluruh Jawa Tengah, pada Rabu (13/12), meminta mereka mendorong peningkatan produksi cabai.
"Jangan sampai cabai rawit kemarin harganya sampai 100 ribu rupiah, meskipun hari ini saya tanya Pak Gubernur tadi sudah di angka 80 ribu rupiah," kata Presiden.
Dalam arahannya kepada PPL, Presiden meminta peningkatan produksi cabai di tempat-tempat yang memungkinkan untuk ditanami cabai, khususnya cabai rawit.
"Apa sulit sih tanam cabai. Sulit? Sulit karena hama atau karena bibit," tanya Presiden.
Kepala Negara pun meminta agar lahan pertanian cabai terus ditingkatkan sehingga produksi bisa meningkat dan harga cabai bisa turun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada kesempatan itu, Presiden juga mendorong peningkatan dan surplus produktivitas gabah, padi, dan beras petani di Jateng agar petani dapat sejahtera.
Menanggapi lonjakan harga cabai itu, peneliti Mubiyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan para pembantu Presiden, khususnya Kementerian terkait seperti Pertanian dan Badan Pangan Nasional, seharusnya malu kalau Presiden sudah meminta secara terang-terangan agar mereka menggalakkan penanaman cabai.
Awan juga mendorong pemerintah agar lebih inovatif mengembangkan produksi cabai. Hal itu demi menjaga stabilitas pasokan dan harga ke depannya. Apalagi, kata dia, anomali cuaca di masa mendatang bakal sering terjadi sehingga mengancam pasokan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Apabila tak ada inovasi produksi maka ke depan kita tak akan bisa memenuhi permintaan domestik. Bisa-bisa dari impor," tegas Awan.
Menurut Awan, inovasi produksi bisa juga dengan memperluas wilayah penanaman, sebab tidak cukup hanya dengan mengandalkan sentra-sentra produksi yang ada saat ini, sembari terus membenahi tata niaganya.
Diminta dalam kesempatan yang terpisah, pakar pertanian dari Universitas Trunojoyo Madura, Ihsannudin, mengatakan ketersediaan cabai yang ada di masyarakat tengah mengalami kendala karena komoditas pertanian tersebut yang masih berada pada masa tanam.
"Faktor tersebut merupakan salah satu alasan penyebab harga cabai naik dan mempengaruhi laju inflasi. Kebergantungan impor barang juga masih menjadi kendala harga yang ada di masyarakat. Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu sering melakukan intervensi dengan operasi pasar," ujarnya.
Lakukan Adaptasi
Sebelumnya, Pembina Institut Agroekologi Indonesia (Inagri), Ahmad Yakub, mengatakan kenaikan harga produk hortikultura, seperti cabai, sudah semenjak lama menjadi perhatian nasional. Kejadiannya pun akan terus berulang bila tidak ada penanganan yang terstruktur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!