Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perubahan Iklim Dinilai Memperparah Ketimpangan Gender di Kawasan Pesisir

📅 Sabtu, 18 Nov 2023, 13:54 WIB | Oleh: Tim Penulis
Perubahan Iklim Dinilai Memperparah Ketimpangan Gender di Kawasan Pesisir Doc: TheConversation/Alamy/Gigih Hardhia
Ket. Nelayan di pasar ikan di Kediri, Jawa Timur.

Andi Misbahul Pratiwi, University of Leeds

Di seluruh dunia, perempuan dan laki-laki mengalami dampak perubahan iklim yang berbeda. Jurang ini terbentuk dari norma-norma sosial dan tanggung jawab sehingga memperparah ketimpangan berbasis gender di antara laki-laki dan perempuan.

Kenaikan muka air laut, badai, dan gelombang tinggi membawa dampak terhadap komunitas di kawasan pesisir tanpa membeda-bedakan jenis kelamin. Namun, konstruksi sosial atas gender membuat dampak tersebut menjadi berbeda. Ini membuat perubahan iklim menjadi persoalan yang sensitif gender.

Penelitian menunjukkan bahwa kawasan pesisir paling terdampak perubahan iklim. Secara khusus, pulau-pulau kecil di Asia dan Pasifik, Amerika bagian tengah maupun Selatan, serta Afrika (banyak disebut sebagai "negara-negara Selatan") rentan mengalami erosi dan pelemahan ekonomi, di tengah kehilangan sumber penghidupan dari sektor perikanan.

Studi doktoral saya menganalisis sejauh mana perubahan iklim memperparah ketimpangan berbasis gender yang dialami perempuan di wilayah pesisir Indonesia. Ketimpangan ini beririsan dengan identitas lainnya seperti, usia, etnis, kelas sosial maupun ekonomi, dan lata belakang pendidikan.

Perempuan dan anak perempuan di kawasan pesisir, secara khusus, mengalami kerentanan yang jauh lebih parah.

Penghidupan yang terancam

Pada 2017, saya melakukan riset bersama Jurnal Perempuan di pesisir Demak, Jawa Tengah. Saya menemukan perempuan di kawasan pesisir menghadapi berbagai masalah, mulai dari kemiskinan, kekerasan berbasis gender, hingga tantangan pekerjaan.

Seorang perempuan nelayan bernama Zarokah yang saya wawancarai mulai mencari ikan bersama suaminya sejak dua tahun silam karena tak bisa lagi menemukan orang yang mau bekerja di laut.

Sejak pagi buta pukul tiga, Zarokah dan suaminya pergi melaut. Hasilnya? Zarokah menceritakan hanya memperoleh sekeranjang ikan Klapan kecil senilai Rp150 ribu. Jika laut sedang baik, dia bisa memperoleh beberapa keranjang.

Dalam situasi kurang beruntung, Zarokah pulang dengan tangan hampa. Mereka boncos lantaran tetap harus merogoh kocek untuk bahan bakar minyak (BBM) dan peralatan. Pendapatan ini jelas tak cukup dan berisiko semakin parah apabila ikan semakin langka. Belum lagi cuaca ekstrem menghantui yang membuat mereka batal melaut.

Penelitian saya menunjukkan bagaimana perempuan di wilayah pesisir berperan besar dalam sektor perikanan dan perekonomian pesisir. Namun, tetap saja, pendiri organisasi perempuan nelayan (Puspita Bahari), Masnu'ah, mengatakan kontribusi ekonomi perempuan tidak diakui oleh laki-laki maupun masyarakat secara umum.

Dalam kartu tanda penduduk (KTP), Zarokah masih berstatus "ibu rumah tangga", meskipun faktanya "Jika saya tidak ikut, suami saya pasti tidak melaut juga dan kita tidak bisa memenuhi kebutuhan," kata dia.

Kerja-kerja nelayan perempuan yang tidak diakui, membuat mereka tak bisa mengakses layanan perlindungan sosial yang disediakan pemerintah seperti asuransi jiwa melalui Kartu Nelayan maupun Kartu KUSUKA. Padahal, di tengah risiko perubahan iklim yang mengancam masyarakat pesisir, perlindungan sosial maupun dukungan negara sangat penting bagi nelayan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Bukan Sekadar Hobi, Industri Modifikasi Otomotif jadi Bagian Ekraf, Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi
    Preview komentar:
    Langkah kolaboratif antara NMAA, IMI, dan pemerintah ini ...
  • Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia
    Preview komentar:
    Terima kasih atas liputan yang mendalam ini; sangat ...
  • Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP Alami Penyesuaian
    Preview komentar:
    Bukannya Vivo & BP 92 udah 16.130 dari ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Megapolitan
Berlatih menari balet di Ga...
Daerah
Gunung Anak Krakatau Erupsi...
Daerah
Tradisi Grobyak Ikan Sumber...

Rupiah Masih Rentan - 24 Agustus 2026

5 jam yang lalu | Rizal Azhari

Ekonomi
Rupiah Masih Rentan - 24 Ag...
Ekonomi
IHSG Menghijau! Awal Perdag...

Kabar Baik! Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

5 jam yang lalu | Marcellus Widiarto

Ekonomi
Kabar Baik! Rupiah Menguat ...

Jumlah rumah rusak akibat gempa di NTT

5 jam yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Jumlah rumah rusak akibat g...
Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

24 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.