Kemenkes: Mitigasi Optimal Stunting Sebelum Anak Berusia Dua Tahun
📅 Jumat, 27 Okt 2023, 18:45 WIB | Oleh: Gembong
Doc: ANTARA/Andi Firdaus
JAKARTA - Mitigasi optimal terhadap kasus stunting perlu ditempuh sebelum fase pertumbuhan otak anak pada batas usia maksimal dua tahun, kata Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu-Anak Kemenkes RI Lovely Dais.
"Anak itu tidak akan mencapai pertumbuhan otak secara optimal sampai usia dua tahun. Sekitar 85 persen otak sudah selesai pertumbuhannya," katanyadalam Podcast Kemenkes RI yang tayang di Jakarta, Jumat.
Untuk itu, gangguan pertumbuhan anak perlu dicegah dengan asupan gizi optimal sejak calon ibu memasuki fase pernikahan, janin dalam kandungan, hingga asupan ASI dan makanan tambahan sebelum anak berusia dua tahun, kata Daisy.
Pada fase jelang pernikahan, Kemenkes RI melakukan intervensi spesifik berupa pemberian tablet penambah darah bagi kaum remaja perempuan.
"Sebab calon pengantin dan remaja, atau satu dari tiga remaja putri mengalami kurang darah. Kalau hamil pasti lebih banyak yang anemia karena volume darah meningkat saat hamil," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada fase kehamilan, kata Daisy, intervensi yang dilakukan berupa penguatan peran posyandu dan puskesmas dalam mendeteksi dini stunting melalui penyediaan fasilitas konsultasi, timbang badan, hingga pemberian imunisasi berkala.
Tumbuh kembang janin juga bisa dimonitor menggunakan alat USG yang akan dicocokkan dengan kurva tumbuh kembang janin berdasarkan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di buku Kesehatan Ibu-Anak (KIA).
"Cara ukurnya hanya satu, dari tinggi atau panjang badan anak berdasarkan usia anak itu, dimasukkan ke dalam kurva yang ditentukan WHO. Kalau di bawah garis merah itu stunting," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada fase melahirkan, kata Daisy, ibu bisa memberikan ASI eksklusif pada rentang usia anak 0--5 bulan dan berlanjut dengan memberikan makanan pendamping ASI yang mengandung protein hewani pada rentang usia anak 6--24 bulan.
Ia mengatakan, masa krusial intervensi stunting ada pada rentang usia anak 6--24 bulan. Sebab, pemberian ASI saja tidak cukup, sehingga membutuhkan asupan makanan pendamping ASI yang mengandung protein hewani.
"Makanya kenapa kasus stunting mulai meningkat pada usia 6 bulan, kemungkinan asupan makanan pendamping ASI tidak mencukupi untuk kebutuhan gizi bayi tersebut. Atau yang kedua, bayi itu sering sakit jadi tidak bisa tumbuh dengan baik," katanya.
Daisy mengatakan protein nabati dan karbohidrat perlu dilengkapi dengan protein hewani berupa telur, ikan, daging ayam, atau daging sapi.
Daisy berharap, seluruh intervensi tersebut dapat menekan kasus stunting nasional maksimal mencapai 17,8 persen pada 2024.
Seperti diketahui, kasus stunting di Indonesia pada kurun 2022 mencapai 21,6 persen dari populasi balita. Jumlah itu menurun dari setahun sebelumnya berkisar 24,4 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!