Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ada Faktor Budaya di Balik Tingginya Angka Stunting di Jateng, Begini Penjelasannya!

📅 Kamis, 07 Agu 2025, 21:31 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ada Faktor Budaya di Balik Tingginya Angka Stunting di Jateng, Begini Penjelasannya! Doc: istimewa
Ket. Rembuk stunting yang berlangsung di Aula Pertemuan Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (7/8)

PEKALONGAN- Rembuk stunting yang berlangsung di Aula Pertemuan Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (7/8), menguak fakta bahwa ada keterkaitan antara budaya dengan kejadian stunting di Jawa Tengah. Di antaranya perspektif budaya banyak anak banyak rezeki.  

"Tanpa berencana, pasangan suami istri pasrah begitu saja, dan tak pernah berpikir ketika anak lahir nantinya seperti apa. Mereka menganggap itulah kodrat, takdirnya," ungkap Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Pemkab Pekalongan, Anis Rosidi dalam rambuk tersebut dikutip dari keterangan resmi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN).

Rembuk mempertemukan Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Sekretaris Daerah, hingga para Penyuluh KB se Kabupaten Pekalongan, kader Tim Pendamping Keluarga (TPK), tim penggerak PKK serta para pemangku kebijakan di lingkup kabupaten Pekalongan. 

“Merubah mindset inilah yang menjadi tantangan kita. Agar keluarga-keluarga yang memiliki budaya, yang dalam tanda kutip kurang mendukung program pengentasan stunting, kita ubah pelan-pelan,” jelasnya.

Pola pikir itu, menurut Anis, perlu diubah, terutama yang secara tidak langsung akan menghambat usaha-usaha penanganan stunting. "Tantangan budaya lainnya, seperti ini: perkara nikah, kesuwen selak opo, kesusu selak opo, kesuen nunggu opo. (perkara perkawinan, kenapa harus menunggu lama). Itu contohnya, perkawinan usia dini,” tambah Anis.

Ia menjelaskan dalam menghadapi tantangan budaya tidak semudah saat mengatasi permasalahan nonkultural. Ia mencontohkan wilayah Kabupaten Pekalongan yang terdiri dari wilayah atas, wilayah tengah, wilayah pesisir, yang mana masing-masing memiliki budaya berbeda-beda. 

Ia mengajak agar pendekatan budaya dalam mengatasi permasalahan stunting dikuatkan. Termasuk di tingkat pelaksana lapangan oleh para kader TPK, penyuluh, sampai para pemangku kebijakan. “Kalau kita tahu budaya masyarakat, kita akan bisa lebih mudah dalam rangka pendekatan pengentasan stunting," pungkasnya.

Diketahui, Jawa Tengah merupakan salah satu dari enam provinsi dengan jumlah balita stunting tertinggi. Lima daerah lainnya yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Banten. Intervensi masif di enam wilayah ini akan sangat berpengaruh terhadap capaian nasional. 

Prevalensi Stunting Jawa Tengah berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) & Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun mengalami penurunan dari tahun 2019 dengan prevalensi 27,7%. Pada tahun 2021 menjadi 20,9%, tahun 2022 sebanyak 20,8% dan 2023 menjadi 20,7%. 

Prevalensi Stunting di Jawa Tengah masih di bawah Prevalensi Stunting Nasional Tahun 2023 sebesar 21,5 %. Namun penurunanya belum signifikan dan belum sesuai dengan target yaitu 3,4 per tahun s.d 2024 diharapkan menjadi 14%.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
PBB Desak Perusahaan AI Tra...
Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.