Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Masker Bedah Masih Bisa Dipakai Saat Kualitas Udara Tak Sehat

📅 Kamis, 24 Agu 2023, 23:23 WIB | Oleh:
Masker Bedah Masih Bisa Dipakai Saat Kualitas Udara Tak Sehat Doc: Istimewa

Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR mengatakan masker bedah masih bisa dipakai orang-orang saat kualitas udara berada pada kategori tak sehat atau masuk zona kuning.

"Tetapi kalau sudah oranye, merah, misalnya kalau bisa lebih tinggi maskernya (tingkat penyaring), karena lebih pekat kadar PM 2.5-nya," kata dia di Jakarta, Kamis.

Apabila merujuk pada indeks standar pencemar udara (ISPU), kategori kualitas udara tak sehat memiliki rentang nilai 1 - 50. Sementara bila tak mengandalkan alat melainkan pandangan mata, kualitas udara di lokasi dikatakan tidak sehat jika jarak pandang hanya sejauh 2,5 km. Kualitas udara di suatu kawasan bisa dikatakan sangat tidak sehat bila jarak pandang seseorang hanya sekitar 1,5 - 2,4 km.

Menurut Agus, idealnya saat menghadapi polusi udara, orang-orang perlu mengenakan masker dengan kemampuan filtrasi atau penyaring particulate matter (PM) 2.5, yakni indikator dalam polusi udara, seperti N95, KN95, KF94.

Hanya saja, sambung dia, masker jenis ini tidak diizinkan pada populasi sensitif, seperti wanita hamil, anak-anak, orang tua dan mereka dengan penyakit tertentu karena membuat lebih pengap akibat masker sangat ketat.

"Oleh karena itu pada kelompok sensitif disarankan masker lain yang bisa mem-filtrasi PM 2.5. Kalau tidak terdapat itu maka minimal pakai masker bedah biasa karena bisa memfiltrasi PM 2.5 sekitar 50 persen," ujar Agus.

Dia menambahkan, orang-orang tetap harus menggunakan masker minimal masker bedah saat berada di luar ruangan atau sebisa mungkin mengenakan masker yang lebih tinggi level filtrasinya terutama saat polutan berada pada level lebih tinggi.

Hal senada diungkapkan pakar imunologi dari Universitas Indonesia Prof Dr dr Bambang Supriyanto, SpA (K). Menurut dia, mengenakan masker bisa menjadi solusi mengurangi dampak buruk polusi udara pada kesehatan.

Selain masker, dia juga menyarankan masyarakat tidak merokok, menghindari bepergian ke daerah polusi tinggi, banyak minum air, tidak membakar sampah, tidak melakukan aktivitas fisik berlebihan dan konsumsi makanan sehat bergizi seimbang.

Berbicara dampak polusi, Bambang menyebutkan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atas karena merusak mukosa saluran nafas sehingga memudahkan virus dan bakteri masuk, ISPA bawah atau pneumonia, TBC, asma, dan pada jangka panjang bisa menurunkan fungsi paru.

"Untuk jangka panjang, fungsi paru bisa menurun sehingga tidak bisa maksimal menghirup oksigen, siap-siap penyakit kronis bisa timbul. Pada anak yang asma menjadi lebih berat. Pada bayi, akan kurus atau kecil berat lahir, bisa prematur," demikian ujar dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Nasional
Menbud Optimistis Batik Ind...

Janice Tjen Tersingkir dari China Open

41 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Tersingkir dari...
Luar Negeri
400 Sekolah Ditutup dan Ham...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.