China Desak Amerika Serikat dan Iran Jaga Keamanan Selat Hormuz
📅 Selasa, 14 Jul 2026, 02:25 WIB | Oleh: AlfredBEIJING - Pemerintah China mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera menahan diri serta menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap aman dan bebas dari gangguan militer, Senin (13/7).
Sikap resmi Beijing ini mencuat demi merespons eskalasi aksi saling serang menggunakan teknologi drone dan rudal oleh kedua negara di perairan internasional tersebut, yang dinilai mengancam stabilitas navigasi maritim global serta merobek nota kesepahaman damai yang baru disepakati Juni lalu.
"Selat Hormuz adalah selat untuk navigasi internasional. Memulai kembali pelayaran yang aman dan bebas di Selat tersebut secepatnya akan menguntungkan semua pihak," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Senin (13/7) mengatakan telah menyerang puluhan target di berbagai lokasi sebagai bagian dari upaya mengurangi kemampuan Iran untuk melemahkan kemampuan Iran untuk terus menyerang pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Menurut CENTCOM, pasukan AS menargetkan sistem pertahanan udara Iran, lokasi radar pantai, kemampuan rudal dan drone, serta kapal-kapal kecil menggunakan pesawat tempur, kapal perang, drone udara sekali pakai (one-way attack aerial drones), dan untuk pertama kalinya, drone laut serang sekali pakai (one-way attack sea drones).
Sebaiknya Anda baca juga:
"Penyelesaian yang tepat diperlukan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan pelayaran melalui Selat Hormuz. Kekhawatiran di komunitas internasional membutuhkan tanggapan yang tepat," tambah Lin Jian.
China, ungkap Lin Jian, siap untuk terus berkomunikasi mengenai hal ini dengan negara-negara terkait dan komunitas internasional.
CENTCOM menambahkan bahwa pasukan AS "berada dalam posisi siap dan siaga untuk memastikan kebebasan bernavigasi tetap terjamin bagi kapal-kapal komersial, meskipun Iran terus melakukan agresi, intimidasi, ancaman, dan pernyataan sepihak tanpa alasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada Minggu (13/7), Iran menyatakan telah menyerang fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman sebagai balasan atas serangan Washington terhadap sasaran di wilayah Iran.
IRGC menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim adalah jika AS mengakhiri campur tangan militernya di jalur perairan strategis tersebut dan menghormati kedaulatan negara-negara pesisir.
Padahal pada 18 Juni lalu, Teheran dan Washington sudah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang yang pecah pada akhir Februari serta membuka jalan menuju perjanjian damai yang langgeng.
Nota kesepahaman itu mencakup penghentian segera pertempuran di semua front, pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meski demikian, kedua negara kembali saling melancarkan serangan pada 7 Juli terkait lalu lintas kapal niaga di Selat Hormuz.
Amerika Serikat menyerang sejumlah sasaran di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang aset-aset milik AS di berbagai kawasan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!