Perlu Gotong Royong untuk Mendorong Kualitas Perguruan Tinggi
📅 Sabtu, 29 Jul 2023, 07:39 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupApakah keterbatasan anggaran ini menghambat peningkatan akses pendidikan tinggi?
Meskipun anggaran kita terbatas, alhamdulillah dari sisi akses peningkatan akses pendidikan tinggi sangat tinggi. Saat ini jumlah mahasiswa sudah 9,5 juta mahasiswa. Setiap tahun hampir meluluskan dua juta mahasiswa. Kita memiliki 300 ribu dosen yang meneliti dan mengabdi pada masyarakat.
9,5 juta tadi, hampir delapan juta di bawah Kemendikbudristek, 1,5 juta ada di Kementerian Agama dan kementerian lain. Ada 81 perguruan tinggi di bawah kemenag dan 135 PT di bawah kementerian dan lembaga lain.
Kita sekarang sudah punya empat ribu lebih perguruan tinggi. Sudah dua kali lipat dari jumlah perguruan tinggi di Tiongkok yang penduduknya lima kali lebih banyak dari Indonesia. Tiongkok itu jumlah perguruan tingginya 2.500 perguruan tinggi. Kita sudah 4500.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apakah jumlah tersebut sudah memenuhi target? Bagaimana dengan akses pendidikan tinggi di luar Jawa?
Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi target kita berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) mencapai 37 persen di 2024. Dengan 9,5 juta dibagi populasi itu per 2022 target ini sudah tercapai kalau dibagi populasi mahasiswa dan usia 19-25 tahun itu sudah sekitar 39 persen.
Masyarakat berpikir bahwa di luar Jawa akses endidikan sulit daripada di Jawa. Faktanya, tidak seperti itu. Papua barat APK-nya tinggi urutan keenam di Indonesia. Jadi lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Justru Jawa Barat, Bangka Belitung, Jawa Tengah masih tertinggal dari rata-rata nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jadi, askes itu bukan hanya di luar Jawa. Di Jawa juga masih ada kantong-kantong yang kesulitan akses pendidikan tingginya.
Dengan jumlah perguruan tinggi yang banyak, bagaimana dengan kualitasnya, mengingat waktu lalu juga ada perguruan tinggi yang dicabut izinnya?
Yang kecil-kecil ini tentu sulit untuk tumbuh kembang dengan baik. Masuknya saja 300 bagaimana mau maju, membiayai operasional saja sudah habis. Sehingga kita dorong perguruan tinggi ini untuk kita rasionalkan. Di Indonesia sebenarnya cukup 2.000 perguruan tinggi, tapi besar-besar.
Jadi, untuk memperluas akses bukan menambah perguruan tinggi, tapi dengan memperbesar perguruan tinggi. Sebagai orang tua, masukkan anaknya ke perguruan tinggi yang kampusnya seperti SD impres, dosen tidak jelas, mahasiswa 50. Apa berani masukin anaknya ke sana?
Ini melatarbelakangi kita menutup beberapa PTS karena mereka nakal. Supaya tetap hidup mereka memungut dari KIP untuk operasional perguruan tingginya. Mereka menggelembungkan data agar terlihat bagus. Mereka jual beli ijazah karena tidak sanggup menyediakan pembelajaran berkualitas.
Ini harus kita tutup karena kalau tidak rusak susu sebelangga. Perguruan tinggi lain akan kehilangan kepercayaan publiknya. Itu kenapa kita tutup dan cabut izin perguruan tingginya yang nakal. Setelah dibina dan diingatkan tidak bisa diperbaiki kita cabut izinnya. Ini membahayakan masyrakat dan marwah pendidikan tinggi kita.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!