Joki Marak di Kampus, Lemahnya Dukungan Akademik untuk Mahasiswa
📅 Jumat, 12 Mei 2023, 12:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara/Hafidz Mubarak A
Luthfi T. Dzulfikar, The Conversation
Gita (bukan nama sebenarnya) adalah mahasiswa semester delapan di suatu kampus swasta di Jawa Timur. Pada waktu luangnya, Gita bekerja sebagai seorang "joki" - sebutan bagi orang yang menawarkan jasa pembuatan tugas atau bantuan ujian bagi pelajar dengan biaya tertentu.
Dulu, Gita pertama mengenal jasa ini pada awal pandemi ketika menjadi pelanggan suatu lembaga joki berkedok "bimbingan belajar" di lingkungan kampusnya. Bersama sekitar 50 mahasiswa lain, ia membayar Rp 110 ribu untuk dua sesi joki ujian, harga yang menurut Gita tinggi untuk jasa yang hanya memberinya nilai sekitar 70.
Ia kemudian punya ide: kenapa tidak membuka bisnis joki, dengan marjin keuntungan yang pastinya akan lebih besar pula jika menjalaninya seorang diri?
Gita kemudian mulai menawarkan beragam layanan perjokian via Twitter. Untuk pekerjaan rumah (PR) atau tugas kuliah, ia mematok harga Rp 20-25 ribu per soal. Sementara untuk ujian, ia bisa mematok antara Rp 30-50 ribu per soal tergantung panjang dan tingkat kesulitannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena memasuki semester penulisan skripsi, Gita kini tak terlalu aktif. Namun, dulu pendapatan bersih bulanannya tak pernah kurang dari Rp 1,5 juta. Ketika ramai, ia meraup hingga Rp 6 juta dalam satu bulan. Bandingkan ini dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk Jawa Timur yang sekitar Rp 1,87-2,04 juta pada tahun 2021-2023.
Ketika ditanya apa motivasinya menjadi seorang joki tugas kuliah, Gita menyebutkan besarnya potensi cuan. Namun, menariknya, ia mengatakan bahwa prospek pasar ini cukup besar karena banyaknya mahasiswa yang kesulitan secara akademik.
Di Indonesia, belum ada riset tentang prevalensi penggunaan atau penyediaan jasa joki di lingkungan pendidikan. Namun, studi tahun 2018 dari Swansea University di Inggris menunjukkan sekitar 15% mahasiswa di seluruh dunia, termasuk negara-negara Asia, pernah menyewa jasa joki - atau disebut "contract cheating" di ranah global - untuk setidaknya satu tugas mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ayu Rachman, mahasiswa S3 bidang ekonomi politik pendidikan di Universitas Padjadjaran (Unpad) dan juga dosen Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo mengingatkan bahwa fenomena joki menunjukkan lemahnya dukungan akademik bagi mahasiswa yang kesulitan dalam mengerjakan tugas, sehingga mereka mencari jalan singkat.
Meredam perjokian akan sulit dilakukan tanpa mempertimbangkan masalah yang mengakar ini.
"Kalau penindakan seperti di [..] sektor lain, blacklist atau apa, kita tidak bisa lakukan. Kita hanya bisa [..] memberikan efek jera, kemudian memberi kesempatan supaya dia bisa memperbaiki kesalahannya," kata Ayu.
"Bagaimanapun, mahasiswa itu adalah by-product (produk sampingan) dari [sistem institusi] kita."
Langgengnya pasar joki: gejala hambatan akademik mahasiswa?
Gita mengatakan akibat permintaan yang tinggi dari mahasiswa, jasa perjokian kini menjamur di berbagai kanal media sosial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!