Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hasil Survei Nasional Ungkap Berapa Gaji Dosen di Indonesia, Layakkah?

📅 Senin, 08 Mei 2023, 13:14 WIB | Oleh: Tim Penulis

Dalam studi lintas negara dan disiplin di 11 negara Eropa, terdapat juga korelasi yang jelas antara tingkat penghasilan akademik yang tinggi dengan performa riset yang tinggi pula. Tentu, ini bisa berdampak pada proses produksi pengetahuan yang kemudian cenderung homogen karena hanya segelintir akademisi elit saja yang menghasilkan riset berkualitas.

Beberapa akademisi mengungkap bahwa satu penyebab beban dan ketimpangan dosen di atas yang terus dilanggengkan, adalah neoliberalisasi pendidikan tinggi yang terjadi di berbagai belahan dunia. Institusi pendidikan tinggi terus bergerak mengikuti logika pasar bebas dan kompetisi, sehingga para dosen pun dituntut untuk menghasilkan riset di jurnal bereputasi internasional demi menggenjot peringkat kampus - kadang hingga melakukan kecurangan atau mencari jalan pintas.

Sebagai upaya menghadapi berbagai situasi ini, dosen di banyak negara - khususnya di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat (AS) - kini bergerak lewat wadah serikat pekerja untuk memperjuangkan hak-hak akademisi bersama elemen kampus lainnya.

Para akademisi Indonesia dapat mempertimbangkan untuk membentuk wadah serupa demi mengadvokasi sejumlah isu kesejahteraan yang mereka hadapi, termasuk mengkalkulasi upah layak yang sepatutnya mereka terima sesuai beban kerja dan kebutuhan hidupnya.

Apalagi, 87,5% partisipan survei kami menyatakan siap bergabung jika serikat dosen terbentuk - yang hingga kini masih absen di Indonesia.

Riset ini semestinya tak hanya sekadar mengisi kekosongan data dan meluruskan persepsi tentang dosen yang kerap dianggap makmur. Namun, temuan ini sepatutnya juga menjadi momentum untuk perbaikan kesejahteraan pengajar di perguruan tinggi - profesi yang sangat menentukan kualitas pendidikan dan riset Indonesia, sekaligus kelompok buruh yang rentan dan memerlukan perlindungan. The Conversation

Kanti Pertiwi, Assistant Professor in Organisation Studies, Universitas Indonesia; Astri Ferdiana, Assistant Professor at the Faculty of Medicine, Universitas Mataram, dan Shofwan Al Banna Choiruzzad, Associate professor, Universitas Indonesia

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Warga Bekasi Akan Dihibur B...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.