Hasil Survei Nasional Ungkap Berapa Gaji Dosen di Indonesia, Layakkah?
📅 Senin, 08 Mei 2023, 13:14 WIB | Oleh: Tim PenulisTak ayal, sebagian besar (71,6%) partisipan pun harus mengejar pemasukan tak rutin dari berbagai aktivitas kepanitiaan, dana hibah penelitian, atau dengan mengampu jabatan struktural di universitas mereka. Jumlahnya? Lebih dari setengah mengatakan tak lebih dari Rp 1 juta per bulan.
Dari 583 partisipan yang memberikan respons terhadap pertanyaan apakah mereka memiliki pekerjaan tambahan, sebanyak 45,8% mengakui bahwa mereka memperoleh pemasukan selain dari profesi dosen di institusi tempat mereka bekerja.
Ini termasuk menjadi konsultan, tenaga ahli, guru bimbingan belajar, dan bahasa asing, hingga membuka usaha sendiri dan berdagang. Namun pemasukan yang mereka dapatkan dari sumber tersebut masih di bawah Rp 3 juta tiap bulannya - hanya 3% dari partisipan mengaku mendapat pemasukan hingga Rp 6-10 juta per bulan dari luar institusi mereka.
Dosen-dosen muda dalam rentang usia 26-35 tahun pun berada dalam masa-masa membangun rumah tangga, membayar cicilan hunian, atau membiayai sekolah anaknya yang tentunya membutuhkan ongkos yang tak sedikit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para dosen muda yang baru menyelesaikan studi lanjut seharusnya berada dalam masa emas produktivitas riset. Namun, kenyataannya justru mereka - khususnya dosen junior - kerap dibebankan dengan tugas administratif yang tinggi yang mematikan gairah penelitian.
Kinerja terhambat gaji
Pada akhir survei, kami menanyakan persepsi dosen tentang penghasilan mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasilnya cukup sesuai dugaan: mayoritas dosen (80%) merasa pendapatannya tidak sesuai dengan beban pekerjaan yang diberikan.
Dosen, misalnya, harus mengemban beban SKS mengajar yang banyak. Upaya efisiensi dan penghematan biaya operasional kerap membuat perguruan tinggi mempekerjakan sesedikit mungkin dosen untuk mengampu banyak kelas.
Selain itu, dosen juga dituntut membimbing mahasiswa, meneliti, menulis publikasi ilmiah, dan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat. Tugas administratif dosen juga bertambah dengan adanya pemantauan kinerja lewat aplikasi-aplikasi yang sangat menguras tenaga dan waktu. Tak sedikit dosen menerima limpahan pekerjaan administratif dari atasan atau senior karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) di kampus.
Pada akhirnya, ini semua mempengaruhi tingkat kepuasan dosen terhadap profesinya dan bagaimana ia mengalokasikan waktunya untuk menekuni profesi dosen dibandingkan pekerjaan lain yang lebih menghasilkan secara ekonomi.
Tidak heran bila kita sering menemukan keluh kesah dosen maupun mahasiswa tentang kualitas pengajaran yang tidak optimal - misalnya kelas-kelas perkuliahan yang dibatalkan karena dosen harus membagi waktunya dengan pekerjaan sampingan mereka.
Selain itu, tekanan pekerjaan dan ekonomi yang dialami dosen sangat mungkin menjadi faktor penjelas mengapa mereka bisa menjadi sosok yang temperamental dan kurang empati, salah satu gejala dalam krisis kontemporer universitas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!