Inggris Sukses Uji Coba Empat Hari Kerja Seminggu, Bagaimana Selanjutnya?
📅 Senin, 20 Mar 2023, 13:24 WIB | Oleh: Tim PenulisAda bahaya bahwa jika unsur kebaruan skema ini memudar, dan pekerja telah mengubah dan menyesuaikan pola kerja dalam kontrak mereka, mereka bisa jadi kurang termotivasi lagi untuk menghasilkan "peningkatan produktivitas 25%" dalam empat hari kerja - sebagai kompensasi satu hari kerja yang dihilangkan.
Setelah kesuksesan proyek uji coba perdana ini, peneliti dan akademisi harus memulai penilaian jangka panjang terhadap perubahan produktivitas yang terjadi. Semoga para bisnis baru, dan mereka yang terlibat dalam uji coba pertama, akan sepakat untuk terus mendukung penelitian ini.
2. Berkomitmen terhadap Minggu Kerja yang Lebih Singkat
Penting untuk mempertimbangkan dampak situasi ekonomi saat ini terhadap praktik kerja. Inflasi yang tinggi membuat biaya produksi untuk bisnis dan biaya hidup bagi pekerja meningkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di satu sisi, situasi ini dapat mengurangi fokus pemberi kerja untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Ini juga bisa mendorong karyawan untuk mencoba mendapatkan penghasilan tambahan di tempat lain pada hari kelima ketika mereka tak bekerja.
Tentu, hal ini bisa bertentangan dengan tujuan kerja empat hari seminggu, yakni meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan karyawan.
Lebih luas lagi, dalam kondisi ekonomi seperti ini, fokus pekerja dan pemberi kerja bisa saja bergeser dari "meningkatkan kinerja" menjadi "mempertahankan (atau bahkan menggandakan) pekerjaan". Peneliti dan pembuat kebijakan perlu mengembangkan cara untuk mendukung bisnis yang berani menghindari pemutusan hubungan kerja di saat sulit ini, dan mendukung kebijakan kerja yang lebih fleksibel. Situasi ekonomi makro akan berubah dan model kerja baru harus direncanakan dengan perspektif jangka panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
3. Menimbang Semua Opsi Kerja yang Fleksibel
Kebijakan lockdown COVID memantik minat terhadap berbagai praktik kerja yang fleksibel, serta memberikan kesempatan untuk menguji beberapa model kerja dalam skala yang luas.
Tim peneliti kami ingin memahami apakah pendapat tentang kerja empat hari berubah karena pandemi menghadirkan model fleksibel lainnya, seperti kerja jarak jauh. Pada November 2021, misalnya, kami meluncurkan survei putaran kedua untuk mengetahui apakah ide model empat hari kerja tenggelam akibat munculnya skema-skema lain.
Hasilnya menunjukkan bahwa empat hari kerja masih menjadi pilihan yang lebih unggul dibandingkan berbagai model kerja lainnya. Sebagian responden memilih untuk bisa mengambil libur di hari kelima (sekitar 70%), atau untuk libur pada hari Jumat atau Senin (61%).
Setelah model empat hari kerja dalam seminggu, bekerja penuh waktu tapi memiliki kebebasan untuk memilih jadwalnya, serta kebebasan untuk bisa bekerja dari rumah ketika perlu, adalah pilihan populer berikutnya (masing-masing 65% dan 66%). Model kerja dari rumah sepanjang waktu menjadi pilihan yang paling tak diminati, namun skema ini memperoleh tambahan dukungan secara signifikan setelah pandemi, naik menjadi 51% dibanding 43% sebelum COVID.
Penelitian kami juga menunjukkan bahwa preferensi berubah berdasarkan demografi pekerja. Perempuan, misalnya, secara signifikan lebih mungkin menginginkan pilihan model kerja alternatif dibandingkan dengan laki-laki. Aspek wilayah juga turut berperan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!