Kampanye HIV di Sekolah, Strategis Tingkatkan Pemahaman di Kalangan Remaja
📅 Jumat, 10 Feb 2023, 15:40 WIB | Oleh: Tim PenulisDalam progam pengabdian masyarakat yang kami lakukan pada 2020 di sekolah di Sidoarjo, Jawa Timur, kami menghadirkan seorang ibu dengan HIV di depan para guru biologi. Sang ibu mengatakan bahwa suaminya yang bekerja sebagai penegak hukum sering pulang malam dari kantor. Setelah dia dites HIV dan dinyatakan positif, barulah dia tahu bahwa suaminya sering bermain seks dengan perempuan lain di luar rumah.
Sekolah Tempat Edukasi HIV/AIDS Strategis
Laporan pada 2018 dari Universitas Padjadjaran menunjukkan remaja perempuan lebih banyak pernah mendengar tentang HIV/AIDS dibanding remaja laki-laki. Sumber informasi yang banyak mereka ketahui adalah dari guru sekolah, teman, dan internet. Cara mencegah HIV, menurut sebagian besar remaja, adalah membatasi hubungan seksual hanya dengan satu pasangan. Ini artinya mereka telah mengetahui salah satu cara mencegah penularan HIV.
Sekolah bisa berperan besar untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja terkait HIV melalui pembelajaran yang lebih aktual dan kontektual.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kompetensi Dasar yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan tahun 2013, misalnya, di Mata pelajaran Biologi kelas X (kelas 1 SMA) terdapat kompetensi yang berkenaan dengan penyakit HIV-AIDS. Yakni membuat usulan tindakan preventif untuk meminimalkan dampak infeksi virus (HIV, SARS, herpes, hepatitis, influenza, rabies, polio, campak, dan COVID-19) pada manusia dan menjelaskan peran virus dalam rekayasa genetika (kompetensi 4.4).
Wawancara mendalam tim kami dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Sidoarjo terhadap guru-guru biologi menunjukkan bahwa mempelajari HIV/AIDS selama ini sebatas pada mencari informasi di internet. Lalu siswa diminta membuat makalah dan presentasi, atau membuat poster. Ada juga yang lebih mempelajari sains dasar yaitu permainan merangkai potongan gambar siklus HIV dan menjelaskannya. Dari semua itu, semua pembelajaran bersifat teoritis.
Untuk mendapat pengalaman pembelajaran yang berbeda, tim kami di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi Sidoarjo menghadirkan narasumber seorang ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS (ODHA, orang dengan HIV-AIDS). Para guru mengatakan baru pertama kali ini mereka bertemu dan mendengarkan pengalaman dari ODHA secara langsung (tatap muka). Pertemuan ini membuat mereka terharu dan kagum terhadap perjuangan ODHA untuk bertahan hidup.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para guru juga mengaku kaget bahwa persepsi ODHA berbadan kurus atau sakit-sakitan adalah salah. Karena narasumber yang mengidap HIV itu tampak seperti orang seperti status gizi normal. Semua peserta menyadari bahwa ternyata tidak semua ODHA tertular karena perilaku berisiko seperti penggunaan jarum suntik narkotika secara bergantian, ataupun berganti-ganti pasangan.
Pandangan para guru ini cocok dengan hasil sebuah studi yang menunjukkan bahwa pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS berhubungan dengan stigma terhadap ODHA. Ini bisa jadi benar, karena anggapan masyarakat bahwa HIV dibawa oleh pekerja seksual komersial (PSK) dan pemakai narkotika.
Konsep penularan HIV dalam rumah tangga hingga ditemukannya kejadian ibu hamil positif HIV masih belum disebarkan kepada siswa yang kelak akan berumah tangga. Edukasi apa yang kita harus lakukan ketika dihadapkan situasi sedang bersama ODHA juga sepertinya belum terjamin merata di semua sekolah.
Penularan HIV bisa diperoleh dari pasangan yang berisiko dan akhirnya berlanjut kepada bayi yang ada di dalam kandungan ibu yang terkena HIV, sehingga bayi bersangkutan menjadi anak dengan HIV/AIDS (ADHA).
Stigma dari masyarakat terhadap ODHA adalah bahwa ODHA terjadi karena perbuatan mereka sendiri. Sehingga terpasang persepsi bahwa penyakit tersebut menjadi sebuah hukuman (kutukan) untuk mereka. Selain itu ada kekhawatiran dan ketakutan akan tertular HIV apabila ODHA duduk di sebelah kita. Pengalaman bertemu langsung dengan ODHA seperti ini tentu tidak semua sekolah mendapatkannya.
Agenda ke Depan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!