Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

40 Persen Satwa di AS Terancam Punah

📅 Selasa, 07 Feb 2023, 18:18 WIB | Oleh:
40 Persen Satwa di AS Terancam Punah Doc: VoA/AP/Carlos Osorio

WASHINGTON DC - Kelompok riset konservasi terkemuka, NatureServe, menemukan bahwa 40 persen fauna dan 34 persen flora berisiko hilang untuk selamanya, sementara 41 persen ekosistem menghadapi kehancuran total.

"Ketika Anda memiliki suatu habitat dan spesies (di dalamnya) mulai punah atau mungkin jumlahnya berkurang, pada akhirnya hal itu dapat menyebabkan kehancuran jenis habitat tersebut," lapor NatureServe pada Senin (6/2)

Segala sesuatu, mulai dari udang karang dan kaktus hingga spesies ikonik Amerika seperti tanaman penangkap lalat Venus, terancam punah.

Laporan baru NatureServe itu menganalisis data dari jaringannya yang berisi lebih dari 1.000 ilmuwan di seantero AS dan Kanada.

Wakil Presiden Data NatureServe, Regan Smyth mengatakan, kerang air tawar juga termasuk spesies yang terancam punah.

"Ini semua bukan spesies yang disukai banyak orang, tapi mereka memainkan peran yang sangat penting dalam ekosistem, merekalah yang menyaring air dan menjaganya tetap bersih. Jika Anda suka pergi memancing bersama putra atau putri Anda, maka Anda akan peduli pada kondisi sungai yang dinamis dan bersih. Ikan yang hidup di sungai-sungai itu bergantung pada layanan ekosistem yang disediakan kerang tersebut," tutur Smyth.

Lebih penting lagi, laporan itu menunjukkan di mana saja persisnya daerah yang akan terdampak di Amerika. California, Texas dan sisi tenggara AS merupakan wilayah yang paling terancam kepunahan.

Laporan itu juga menemukan bahwa ancamannya beragam, termasuk degradasi habitat dan konversi lahan, spesies invasif, pembendungan dan pencemaran sungai, serta perubahan iklim.

Presiden Nature Serve Sean O'Brian mengatakan, "Anda tidak bisa berburu atau memancing kalau ekosistem mereka terdegradasi, jika sungai mereka terpolusi, atau jika seseorang membersihkan lahan tempat bergantungnya kehidupan para rusa."

O'Brien, yang menyebut kesimpulan laporan itu "mengerikan," berharap laporan itu dapat membantu para pembuat kebijakan memahami urgensi disahkannya undang-undang perlindungan alam dan menunjukkan kepada pemerintah-pemerintah negara bagian kesenjangan antara tanah yang dilindungi dan kawasan yang perlu dilindungi.

"Lebih mudah berburu di tanah yang tidak dilindungi daripada tanah yang dilindungi, sehingga menempatkan kawasan lindung di sekitar spesies yang berisiko berpotensi mengurangi perburuan liar," pungkas dia. VoA/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Daerah
PMI Cianjur Pastikan Pendis...
Advertisement
Barang Temuan di Selat Sunda Bukan Milik 5 Jurnalis Hilang, Ini Penjelasan Polda Banten

Barang Temuan di Selat Sunda Bukan Milik 5 Jurnalis Hilang, Ini Penjelasan Polda Banten

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.