Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perang di Ukraina Menyebabkan Kematian Ribuan Penghuni Laut Hitam

📅 Senin, 16 Jan 2023, 20:11 WIB | Oleh:

Rusev menginginkan Ukraina menetapkan daerah ini sebagai kawasan lindung, taman nasional maritim sekitar 5.000 kilometer persegi, yang nantinya bisa menjadi tempat berlindungnya lumba-lumba.

Dia telah mengajukan proposal ke Kementerian Lingkungan Hidup, yang kemudian mendukung gagasan itu.

Dalam sebuah pernyataan, pihak kementerian mengatakan kepada BBC Future bahwa mereka sudah memikirkan cara memulihkan populasi lumba-lumba dan mendirikan pusat adaptasi lumba-lumba afalina (hidung botol) Laut Hitam di Taman Nasional Tuzly.

"Setiap tahun, pusat ini akan merehabilitasi lumba-lumba, serta menerima data ilmiah tentang kehidupan lumba-lumba dan cara untuk melestarikan populasi mereka," kata juru bicara kementerian.

"Konsep ini membayangkan membangun kerja sama internasional, serta mengubah paradigma sikap terhadap lumba-lumba melalui kegiatan pendidikan. Pusat ini akan menjadi lokasi wisata dan setiap tahun (musiman) pengunjung bisa mengamati lumba-lumba di luar dolphinarium."

Sampai invasi Russia ke Ukraina, pemulihan jumlah Cetacea di Laut Hitam dihitung sebagai sebuah kisah sukses lingkungan.

Ada tiga spesies utama: lumba-lumba biasa, porpoise pelabuhan, dan lumba-lumba hidung botol atau lumba-lumba afalina. Sampai 1960-an, populasi mereka menurun.

Sulit untuk menjabarkan data sejarahnya, tetapi para ilmuwan yang diwawancarai untuk artikel ini memperkirakan mungkin ada antara 1-2 juta lumba-lumba dan propoise di Laut Hitam pada tahun 1900.

Pada 1945, mereka memperkirakan jumlahnya turun menjadi sekitar 100.000.

Perburuan adalah ancaman terbesar, tetapi pada 1966 aktivitas itu dilarang di Uni Soviet (termasuk Russia, Ukraina dan Georgia), Bulgaria dan Rumania. Turki mengikutinya pada 1983.

Ancaman lain tetap ada, termasuk polusi dan secara tidak sengaja menjadi tangkapan.

Salah satu kekhasan Laut Hitam adalah secara teknis, di bawah kedalaman sekitar 180 meter, laut itu sudah mematikan. Sebab, tidak ada oksigen yang masuk pada kedalaman itu. Kehidupan laut terkonsentrasi di lapisan atas.

"Mengingat bahwa 87 persen air laut secara alami anoksik, Laut Hitam sangat sensitif terhadap dampak antropogenik karena daerah tangkapan air yang besar dan alam yang hampir terkurung daratan," menurut Program Lingkungan PBB.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.