Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

OECD Proyeksikan Ekonomi Global Bakal Merosot Tajam

📅 Kamis, 24 Nov 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
OECD Proyeksikan Ekonomi Global Bakal Merosot Tajam Doc: ISTIMEWA
Ket. YOHANES B SUHARTOKO Pengamat Ekonomi Universitas Katolik Atmajaya - Saat ini, saat terbaik untuk inward looking, bagaimana ekonomi domestik benar-benar bisa menjadi penopang ekonomi nasional, bahkan penyelamat pertumbuhan secara global.

» Pertumbuhan tahunan di kawasan Euro diproyeksikan menjadi 0,5 persen pada 2023.

» Ekonomi domestik harus menjadi penopang ekonomi nasional bahkan penyelamat global.

JAKARTA - Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dalam laporan bertajuk Prospek Ekonomi terbaru yang dipublikasikan pada Selasa (22/11) menyebutkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global diproyeksikan akan merosot tajam dari 3,1 persen pada tahun ini menjadi 2,2 persen pada 2023.

Angka pada 2022 itu sekitar separuh dari laju yang tercatat pada 2021 selama masa pemulihan dari pandemi Covid-19, dan tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan untuk 2023 jauh di bawah perkiraan sebelum seiring dengan meletusnya konflik Russia-Ukraina.

"Asia akan menjadi mesin pertumbuhan utama pada 2023 dan 2024, sementara Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan akan mengalami pertumbuhan yang sangat rendah," kata OECD dalam keterangannya.

"Tertahan oleh tingginya harga energi dan pangan, kepercayaan yang lemah, berlanjutnya kemacetan pasokan, dan dampak awal dari kebijakan moneter yang lebih ketat, pertumbuhan tahunan di kawasan Euro diproyeksikan jadi 0,5 persen pada 2023," jelas organisasi tersebut.

Ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan hanya akan tumbuh 0,5 persen pada 2023, dibandingkan dengan 1,8 persen pada 2022. Pasar energi juga tetap berada di antara risiko penurunan yang signifikan.

"Eropa telah menempuh perjalanan panjang untuk mengisi kembali cadangan gas alamnya dan mengekang permintaan, namun musim dingin di Belahan Bumi Utara pada tahun ini pasti akan menantang," menurut OECD, seraya menambahkan bahwa harga gas yang lebih tinggi atau gangguan pasokan gas langsung akan menyebabkan pertumbuhan yang jauh lebih lemah dan inflasi yang lebih tinggi di Eropa dan dunia pada 2023 dan 2024.

"Dengan mempercepat investasi dalam pengadopsian dan pengembangan teknologi dan sumber-sumber energi bersih akan sangat penting untuk mendiversifikasi pasokan energi dan memastikan ketahanan energi," kata OECD seperti dikutip Antara dari kantor berita Xinhua.

Stagflasi di AS

Menanggapi proyeksi OECD itu, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, mengatakan sejak dulu Asia memiliki peran setara dengan Eropa dan Amerika terutama dengan kekuatan tiga negara di Asia Timur, yakni Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.

Sementara pada tahun-tahun ini, Asia mendapat beban lebih banyak untuk menopang pertumbuhan dunia karena stagflasi di Amerika dan Eropa.

"Jadi, saya sepakat kalau Asia terutama justru bukan tiga negara besar yaitu Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok memiliki potensi tumbuh yang akan menopang pertumbuhan dunia. Dengan pasar domestik yang besar dan permintaan yang begitu tinggi, Asia memang jadi masa depan ekonomi dunia," kata Susilo.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

03 Jul 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.