Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mafia Berupaya Halangi Pengembangan Pertanian Multikultural

📅 Senin, 24 Okt 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

"Saya selalu bilang kampanye pangan lokal jangan ketela rebus terus, tapi bagaimana chef terbaik mengenalkan pangan berbahan lokal yang rasa dan brand-nya sekelas makanan modern," kata Masyhuri.

Menurut Masyhuri, selera konsumen sebagai tujuan utama dari semua kampanye pangan berbahan baku lokal, seperti ketela, sagu dan sebagainya. Sulit diharapkan menjadi berharga bagi perubahan selera konsumen kalau gerakan pangan lokal hanya mengoleksi pangan-pangan lokal tradisional yang memang sulit untuk disukai konsumen hari ini.

Kedua, Badan Pangan harus fokus pada program yang benar-benar berkontribusi bagi pengembangan pertanian secara nyata dan terlihat success story-nya setiap tahun dengan kebijakan yang terhubung dengan kementerian.

Salah satu masalah utama pertanian nasional menurut Masyhuri adalah petani Indonesia yang mayoritas adalah petani gurem dengan kepemilikan lahan hanya 0,3 hektare. Padahal dalam UUPA dan diulang kembali dalam UU No 1 Tahun 1960 tersurat jelas bahwa minimal lahan petani adalah dua hektare.

Di masa Orde Baru, ada kebijakan transmigrasi yang membuat petani gurem di Jawa berpindah ke luar Jawa dengan diberi tanah dua hektare. "Badan Pangan semestinya memiliki kebijakan yang jelas dan konkret seperti itu, agar masalah pertanian kita yakni petaninya gurem semua, tidak memiliki tanah, bisa naik kelas memiliki lahan pertanian yang memadai," jelas Masyhuri.

Pada akhir pekan lalu, Kepala Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi, di Malang, Jawa Timur, mengatakan salah satu upaya untuk memperkuat sektor pangan di dalam negeri melalui Gelar Pangan Nusantara (GPN) yang memperkenalkan potensi pangan Nusantara.

Dalam Gelar Pangan Nusantara kali ini, pihaknya melakukan rangkaian kegiatan yang bersifat edukatif melalui berbagai lomba yang mendorong kreativitas, yang mengandung pesan dan kampanye seputar penguatan pangan nasional.

Selain itu, juga mengampanyekan gerakan untuk mengurangi pemborosan pangan dan sosialisasi gerakan makan telur setiap hari untuk meningkatkan gizi masyarakat, termasuk untuk mengurangi prevelansi stunting.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Digital

2 jam lalu | Ilham Sudrajat

Ekonomi
OJK Perkuat Ekosistem Keuan...
Megapolitan
Pemprov DKI Bakal Kaji Usul...
Daerah
Kementan Percepat Peningkat...
Waspada! El Nino Dinilai PBB Tingkatkan Risiko Cuaca Ekstrem Global

Waspada! El Nino Dinilai PBB Tingkatkan Risiko Cuaca Ekstrem Global

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.