Review Insidious: Out of the Further, Teror Membosankan dari Franchise Horor yang Kehabisan Ide
📅 Kamis, 20 Agu 2026, 01:05 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SKetika Insidious dirilis pada 2010, film garapan James Wan dengan naskah Leigh Whannell menawarkan pendekatan horor yang sederhana tetapi efektif. Film tersebut memadukan atmosfer Poltergeist dengan sedikit unsur komedi gelap ala Ghostbusters, sekaligus menghadirkan gaya visual dan teror yang terasa berbeda pada masanya.
Kini, franchise Insidious kembali dengan film keenam, Insidious: Out of the Further. Namun, alih-alih menghidupkan kembali teror yang pernah menjadi kekuatan utama seri ini, film terbaru tersebut justru dinilai semakin kehilangan daya tarik.
Dalam ulasannya, The Guardian menilai Out of the Further terlalu bergantung pada mitologi waralaba yang semakin rumit, sementara kualitas efek visual dan cerita tidak mampu memberikan pengalaman horor yang sebanding dengan film pertamanya.
Formula tersebut perlahan kehilangan daya tarik setelah kendali kreatif berpindah tangan. Wan masih menyutradarai Insidious: Chapter 2, sementara Whannell kemudian menggarap film ketiga dan tetap terlibat dalam penulisan cerita hingga Insidious: The Red Door.
Kini, Out of the Further mencoba melanjutkan kisah tersebut tanpa kehadiran langsung keduanya sebagai sutradara. Film ini ditulis dan disutradarai Jacob Chase.
Sebaiknya Anda baca juga:
Cerita kembali berpusat pada The Further, dimensi astral tempat roh-roh jahat dalam semesta Insidious berada. Salah satu karakter yang tetap menjadi penghubung utama dengan mitologi tersebut adalah Elise Rainier, yang diperankan Lin Shaye.
Elise tetap menjadi salah satu elemen yang paling menarik dalam film. Setelah kematiannya dalam film pertama, karakter tersebut masih muncul dalam The Further dan membantu mereka yang berhadapan dengan roh jahat.
Dalam Out of the Further, kisah beralih kepada Gemma, seorang perempuan yang sejak kecil memiliki hubungan dengan dunia supranatural. Trauma masa lalunya berkaitan dengan sang ibu, yang mengalami gangguan akibat teror makhluk dari The Further.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gemma kemudian tumbuh menjadi ahli kebersihan gigi dan membesarkan putrinya di rumah yang sama. Ia percaya bahwa kematian ibunya berkaitan dengan kelalaian dan kecanduan narkoba.
Namun, gangguan supernatural kembali muncul. Kehadiran tiga sosok menyeramkan di lingkungan sekitar menjadi awal terbukanya kembali hubungan Gemma dengan The Further.
Film kemudian memperkenalkan kemampuan Gemma untuk memasuki The Further sekaligus membawa makhluk dari dimensi tersebut ke dunia nyata. Kemampuan itu menjadi ancaman karena roh-roh tersebut dapat melekat pada dirinya dan memburu manusia yang masih hidup.
Dengan bantuan Elise dan seorang seniman tato yang memiliki hubungan spiritual, Gemma berusaha mengembalikan para makhluk tersebut ke The Further.
Salah satu konsep yang cukup menarik muncul ketika Gemma memasuki benteng sofa milik putrinya. Ruang tersebut berubah menjadi lorong sempit berwarna krem yang memberikan kesan seperti dunia surealis dalam Alice in Wonderland atau ruang liminal ala Backrooms.
Film juga memanfaatkan profesi Gemma sebagai ahli kebersihan gigi untuk menghadirkan salah satu adegan horor yang cukup menjijikkan, ketika ia berhadapan dengan sosok menyeramkan dengan gigi dan rongga mulut yang rusak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!