Bizantium, Kejayaan Kekaisaran Penerus Romawi
📅 Jumat, 16 Sep 2022, 00:00 WIB | Oleh: Haryo BronoAbad kelima akan menandai akhir dari bagian barat Kekaisaran Romawi. Setelah kehilangan wilayah oleh kelompok barbar dan diganggu dengan pertikaian, Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476 ketika kaisar terakhirnya dipaksa turun takhta. Sebaliknya, Kekaisaran Romawi Timur bertahan, menjadi apa yang sekarang kita sebut "Kekaisaran Bizantium."
Justinian I lalu menjadi kaisar pada 527. Banyak sejarawan mengatakan bahwa zaman keemasan Bizantium terjadi pada masa pemerintahannya, dimulainya pemerintahan Justinian. Pada awal masa pemerintahannya, Justinianus bergerak untuk lebih memperkuat agama Kristen sebagai agama resmi.
Ia melarang agama tradisional Yunani-Romawi. Ia juga menutup sekolah filosofis di Athena pada 529, tempat di mana siswa belajar tentang karya-karya filsuf Yunani kuno, seperti Plato, yang telah mengikuti agama tradisional Yunani-Romawi.
Pada 532, hanya lima tahun dalam pemerintahannya, Ibu Kota Konstantinopel dilanda kerusuhan Nika (Nika berarti "kemenangan" atau "menaklukkan" dalam bahasa Yunani). Penulis kuno Procopius (yang hidup pada abad ke-6M) menyatakan Konstantinopel, bersama dengan kota-kota kekaisaran lainnya, terpecah menjadi dua faksi "Biru" dan "Hijau".
Sebaiknya Anda baca juga:
Kedua faksi cenderung meningkatkan persaingan mereka dalam balapan kereta dan acara lainnya. Perlombaan kereta sangat populer pada saat itu dan terjalin dengan kekuatan kekaisaran. "Justinian sendiri adalah seorang Biru," tulis James Grout dalamEncyclopaedia Romana.
Sebelum kerusuhan, otoritas Bizantium menangkap beberapa anggota dari kedua faksi dan menghukum mereka untuk dieksekusi. Ketika tuntutan faksi untuk pembebasan anggota yang ditangkap diabaikan, mereka bersatu dan mencoba untuk menggulingkan kaisar.
Anggota dari dua faksi bersekongkol bersama dan menyatakan gencatan senjata satu sama lain, menangkap para tahanan dan kemudian langsung memasuki penjara dan membebaskan semua orang yang berada di kurungan di sana.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Api membakar kota seolah-olah telah jatuh di bawah tangan dari musuh," tulis Procopius.
Pembangunan Hagia Sophia
Kerusuhan berlangsung beberapa hari, dan Justinianus harus memanggil pasukan untuk menumpas para perusuh. Menurut catatan Procopius sebanyak 30.000 orang tewas dalam peristiwa itu. Pada kerusuhan Justinianus mengambil keuntungan dari situasi tersebut dengan membangun gereja bernama Hagia Sophia yang artinya "Kebijaksanaan Suci".
"Dimensi Hagia Sophia luar biasa untuk struktur apapun yang tidak terbuat dari baja," ucap Helen Gardner, seorang sejarawan seni, dan Fred Kleiner, seorang profesor sejarah seni di Universitas Boston, menulis dalam bukuGardner's Art Through the Ages: A Global History(Cengage Learning, 2015). hay/I-1
Jatuhnya Konstantinopel Mengakhiri Romawi Timur
Pada 541 hingga 542 M, wabah melanda Kekaisaran Justinian dan bahkan menimpa kaisar sendiri, meskipun ia selamat. "Namun, banyak rekan senegaranya tidak, dan beberapa sarjana berpendapat bahwa sebanyak sepertiga penduduk Konstantinopel binasa," tulis Gregory. Ia mencatat penyakit itu muncul kembali 15 tahun kemudian sejak saat itu hingga abad ketujuh.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!