Bizantium, Kejayaan Kekaisaran Penerus Romawi
📅 Jumat, 16 Sep 2022, 00:00 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Karena menghadapi banyak masalah yang sulit, Romawi dipecah menjadi dua Romawi Barat dan Romawi Timur. Serangan orang-orang barbar membuat Romawi Barat runtuh, sementara Romawi Timur tetap eksis dan bertahan kampir 1.000 tahun, sebelum jatuh oleh Kekaisaran Ottoman
Ketika Romawi Barat runtuh, Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium (Byzantine), terus berlanjut. Pemerintahan ini bertahan selama hampir 1.000 tahun dari 330 hingga 1453 M.
Kekaisaran Bizantium berbasis di Konstantinopel (Istanbul saat ini), pada puncaknya menguasai wilayah yang membentang dari Spanyol selatan hingga Suriah. Sepanjang sejarahnya, Bizantium jarang menguasai Roma. Sedangkan budaya berbicara utamanya dalam bahasa Yunani.
"Meskipun demikian, orang-orang Bizantium terus menyebut diri mereka sebagai Romawi," kata Timothy Gregory, profesor emeritus bidang Sejarah di Ohio State University, dalam tulisannya dalam bukuA History of Byzantium(Wiley-Blackwell, 2010).
Kekaisaran Romawi Timur bisa didefinisikan sebagai kekaisaran multietnis yang muncul sebagai kekaisaran Kristen, yang kemudian segera terdiri dari kekaisaran Timur yang sudah di-Helenisasi dan mengakhiri sejarah ribuan tahunnya. Dalam abad-abad setelah penjajahan Arab dan Langobardi pada abad ke-7, sifat multietnisnya (meski bukan multi-bangsa) tetap ada meskipun bagian-bagiannya, Balkan dan Asia Kecil, mempunyai populasi Yunani yang besar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Etnis minoritas dan komunitas besar beragama lain misalnya bangsa Armenia, tinggal dekat perbatasan. Rakyat Romawi Timur menganggap diri mereka adalah seorang Rhomaioi yang telah menjadi sinonim bagi seorang Hellene.
Bizantium yang lebih luas dari era kekuasaan Romawi masih dianggap sebagai bagian dari Kekaisaran Romawi, meskipun kekuasaannya tidak mencapai Roma. Tidak seperti bagian barat kekaisaran, Kekaisaran Bizantium berkembang dan mengalami zaman keemasan pada masa pemerintahan Justinian (527 hingga 565 M).
Pada awal abad 4 M, Kekaisaran Romawi mencakup wilayah yang sangat luas, dari Inggris utara hingga Suriah. Namun banyaknya masalah pada wilayah yang luas membuat kaisar Diocletian pada 293 memperkenalkan sistem yang dikenal sebagai tetrarki.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini secara efektif membagi kekaisaran menjadi empat wilayah, dua di antaranya diperintah oleh kaisar (agustus), dan dua lainnya diperintah oleh pewaris masing-masing kaisar (caesar). Constantius (hidup 250-306) dinobatkan sebagai salah satu dari caesar ini dan akhirnya naik menjadi Augustus di barat.
Setelah kematiannya pada 306, pihak tentara menyatakan putranya, Konstantinus, sebagai kaisar Augustus. Konstantinus mengambil alih bagian barat Kekaisaran Romawi setelah memenangkan Pertempuran Jembatan Milvian pada tahun 312 M melawan Maxentius, seorang penuntut saingan untuk takhta barat.
Legenda yang diceritakan, selama masa hidupnya, Konstantinus mengatakan bahwa sebelum pertempuran, ia memiliki semacam pengalaman religius yang mengakibatkan dia menjadi umat Kristen. Pada 324 M, ia menjadi kaisar setelah memenangkan Pertempuran Chrysopolis di tempat yang sekarang disebut Turki, melawan Licinius, seorang kaisar dari timur.
Dengan kekaisaran bersatu kembali, Konstantinus membawa sejumlah perubahan penting yang meletakkan dasar bagi Kekaisaran Bizantium. "Yang paling signifikan dari perubahan ini adalah munculnya agama Kristen sebagai agama favorit (dan kemudian resmi) negara, dan penciptaan Konstantinopel sebagai pusat kota baru kekaisaran di pantai Bosphorus, di tengah-tengah antara semua perbatasan kekaisaran," kata Gregory.
Konstantinopel dibangun di situs Bizantium, sebuah pusat kota yang memiliki sejarah panjang pendudukan sebelumnya. Sejarawan Sozomen atau Salminius Hermias Sozomenus, yang hidup pada abad ke-5 M mengatakan bahwa lokasi Konstantinus untuk kota barunya diilhami oleh Tuhan, yang konon muncul di hadapan Konstantinus dan mengarahkannya untuk membangun kota di mana dia melakukannya.
Gregory mencatat bahwa Konstantinus dibaptis tak lama sebelum kematiannya pada 337 M. Kematian Konstantinus menghasilkan serangkaian penerus yang berumur pendek. Theodosius I adalah satu-satunya kaisar Romawi terakhir. Setelah kematiannya, pada tahun 395 M, kekaisaran itu dipecah menjadi dua kerajaan timur dan barat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!