Ini Kisah Hidup Jenderal Dudung, Mantan Penjual Koran dan Kue Klepon yang Pernah Ditempeleng Mayor Tentara
📅 Rabu, 17 Nov 2021, 14:57 WIB | Oleh: Agus Supriyatna
Doc: Istimewa
JAKARTA -Nasib orang tidak ada yang tahu. Dulu sudah dan melarat, tapi kemudian jadi orang sukses. Atau dulu kaya raya, tapi setelah itu bangkrut dan melarat. Begitulah perjalanan hidup manusia, tidak ada yang bisa menebak. Ada banyak kejutan.
Seperti kisah Dudung Abdurachman. Pada 6 Agustus 2020, Dudung yang sudah berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen) resmi memegang tongkat komando sebagai Panglima Kodam Jaya, salah satu Kodam strategis di Indonesia, karena bertanggung jawab atas keamanan di Ibukota dan sekitarnya. Dan takdir baik kembali menghampirinya. Setelah jadi Pangdam, Dudung kembali naik kelas jadi Panglima Kostrad atau Pangkostrad.
Pangkatnya pun naik jadi Letnan Jenderal atau jenderal bintang tiga. Keberuntungan Dudung tak berhenti di situ. Di bulan November tahun ini, Dudung kembali naik jabatan. Ia resmi dilantik menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) menggantikan Jenderal Andika Perkasa yang resmi jadi Panglima TNI. Pada hari Rabu (17/11), Dudung resmi didapuk jadi orang nomor satu di Angkatan Darat setelah ia dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara.
Dengan jadi Kasad, maka Dudung pun resmi jadi orang nomor satu di Angkatan Darat. Pangkatnya pun naik jadi jenderal bintang empat. Berikut sekelumit kisah hidup Jenderal Dudung yang berhasil Koran Jakarta rangkum dari berbagai sumber.
Dudung lahir di Bandung pada taggal 16 November 1965. Bintangnya mulai bersinar, ketika dia ditunjuk jadi Pangdam Jaya menggantikan Letjen Eko Margiyono, Pangdam Jaya sebelumnya yang dipromosikan menjadi Pangkostrad. Setelah itu, bintang karirnya kian cemerlang. Usai menjabat Pangdam Jaya, Dudung dapat promosi jadi Pangkostrad. Kini, ia resmi jadi Kasad.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada banyak kisah menarik dari perjalanan hidup Jenderal Dudung. Kisah tentang lika liku perjuangannya hingga sukses menyandang jenderal bintang empat di lingkungan TNI seiring dengan jabatan Kasad yang dipegangnya.
Dalam sebuah kesempatan wawancara, Dudung sempat menuturkan jejak hidupnya hingga sekarang jadi jenderal TNI. Rupanya, Dudung pernah merasakan pahit getirnya hidup sebagai orang susah. Dudung mengaku, bukan berasal dari keluarga berada. Bahkan, sejak kecil ia sudah berpeluh keringat, bergelut dengan kerasnya kehidupan. "Saya pernah jadi tukang loper koran," kata Dudung.
Dudung pun lalu bercerita. Kata dia, waktu menginjak kelas 2 SMP, ayahnya berpulang dipanggil Tuhan. Praktis ibunya yang mesti berjuang menghidupi keluarga. Padahal, ada 8 anak yang mesti dihidupi. Demi membuat dapur tetap mengepul, Ibu Dudung berjualan kue dan kerupuk. Dudung masih ingat, ia kerap membantu sang ibu berjualan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Bapak saya kerja sebagai PNS di Siliwangi anaknya ada 8, sehingga setelah bapak nggak ada bantu ibu berjualan kue, kerupuk masih mentah, terasi," katanya.
Tidak hanya itu, Dudung juga kerap membantu ibunya cari kayu bakar. Karena ketika itu, keluarganya belum pakai kompor. Masih gunakan kayu bakar untuk memasak.
Dudung pula yang diandalkan ibunya untuk menjajakan dagangan kuenya. Keluar masuk asrama militer dan rumah-rumah warga menawarkan kue jadi kesehariannya saat itu. Tidak hanya itu, Dudung pun nyambi sebagai tukang loper koran. Itu dilakukannya demi menambahkan nafkah keluarga. Membantu sang ibu.
"Dulu itu saya tes masuk SMA keterima, tapi pas diantar ibu saya minta masuk yang SMA siang karena paginya saya ngantar koran dulu," ujarnya.
Meski susah, Dudung punya keinginan kuat untuk belajar. Jam 4 pagi, ia sudah bangun. Lalu pergi ke agen koran untuk mengambil koran yang akan diantarkannya. Sebelum itu, semua koran dilahapnya dibaca.
"Saya baca dulu koran-koran itu supaya tahu perkembangan situasi," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!