Cegah Anak 'Stunting' Tak Perlu Mahal
📅 Sabtu, 28 Agu 2021, 08:31 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupSatu hal yang harus dipahami bersama adalah stunting itu bisa diatasi untuk tidak menjadi stunting atau dikoreksi itu pada seribu hari kehidupan pertama. Sehingga ketika bayi lahir sampai dua tahun ini masih bisa dilakukan modifikasi, intervensi supaya tidak bisa menjadi stunting.
BKKBN siap mengerahkan dukungan 13.734 tenaga PKB/PLKB dan satu juta kader yang tersebar di seluruh Indonesia. PLKB nantinya akan menjalankan pendampingan kepada keluarga dan calon pasangan usia subur sebelum proses kehamilan.
Masih ada anggapan, penanganan stunting ini butuh asupan gizi yang mahal. Bagaimana tanggapan Bapak?
Sungguh sering kali kita beranggapan atau beropini bahwa kalau kita mengonsumsi makanan sehat itu pasti mahal, itu sangat salah. Cegah anak stunting itu nggak perlu mahal-mahal banyak sekali sumber dari sumber daya yang ada di desa tidak perlu yang mahal-mahal. Makanan yang namanya daging itu mahal, ikan itu kan murah, tetapi ternyata kalau untuk mencegah stunting itu ikan sudah sangat cukup, telur sudah sangat cukup proteinnya sudah sangat tinggi tidak kalah dengan daging sapi, lemaknya juga cukup dan lemaknya juga lebih baik daripada daging sapi, bahkan kalau daging sapi punya dampak-dampak negatif.
Sebaiknya Anda baca juga:
BKKBN melalui program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di Kampung KB (Keluarga Berkualitas). Ini salah satu upaya perbaikan gizi adalah melalui edukasi dan perbaikan konsumsi pangan ibu hamil, menyusui dan balita dari berbagai pangan yang tersedia, bergizi dan terjangkau dengan cita rasa yang sesuai dengan selera mereka.
Stunting ini selalu diidentikkan dengan tugas ibu. Bagaimana laki-laki khususnya para kepala keluarga bisa peduli terhadap stunting?
Tidak kalah pentingnya untuk mencegah stunting adalah pemeriksaan kesehatan calon bapak dan ibu seperti pemeriksaan darah, HB dan asam folat serta menjauhkan ibu hamil dari paparan asap rokok. Nah, toxic rokok ini memengaruhi prenatal dan postnatal, laki-laki yang program ingin punya anak berhenti dulu merokok selama 70 hari sebelum konsepsi karena toxic-nya bisa menurunkan kualitas sperma.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana upaya BKKBN dari hulu ke hilir dalam penyelesaian stunting?
Selain tetap mengoptimalkan pelayanan melalui kader posyandu, BKKBN juga melakukan penanganan dari hulu ke hilir. Dimulai dari sebelum anak lahir, yakni saat para ibu atau pasangan usia subur merencanakan akan menikah, mereka harus dicek kesehatannya. Banyak perempuan Indonesia yang hamil dalam kondisi yang sebenarnya belum siap sehingga kemungkinan anaknya bisa stunting.
BKKBN sudah meluncurkan program siap nikah dan ke depannya calon pasangan usia subur atau calon pengantin harus mendaftarkan hari pernikahannya tiga bulan sebelumnya. Calon pengantin akan diminta untuk mengisi platform yang berisikan penilaian status gizi dan kesiapan untuk hamil guna mencegah stunting. Platform sedang disiapkan secara bersama-sama oleh BKKBN dan Kementerian Agama (Kemenag).
Terkait program ini ada anggapan bahwa pemerintah melarang untuk menikah. Bagaimana tanggapan Bapak?
BKKBN tidak akan mempersulit dan menggagalkan orang menikah. Apabila ada yang tidak memenuhi syarat untuk hamil. Maka BKKBN tentu tidak melarang untuk menikah, tetapi akan memberikan masukan dan saran-saran untuk tidak hamil dulu sebelum kesehatannya memenuhi syarat.
Sebetulnya, kalau kita bisa memutus rantai ketika calon pengantin (catin) itu mau menjadi pasangan suami-istri, kemudian yang kurang memenuhi syarat itu bisa kita koreksi sebelum dia hamil, maka kemudian stunting bisa diturunkan. Keluarga Berencana Menuju Keluarga Berkualitas berorientasi pada penurunan stunting mulai masa pranikah, hamil, kemudian interval antara kehamilan sekarang dan kehamilan yang akan datang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!