Kampung Terakhir di Singapura Mencoba Bertahan di Tengah Modernisme
📅 Sabtu, 29 Mei 2021, 05:42 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: AFP/SIMIN WANG
K
ampung, yang dalam bahasa Melayu berarti desa, bagi Singapura merupakan oasis di negara-kota yang identik dengan kehidupan urbannya. Namun oasis ini kini tinggal tersisa satu-satunya di sebuah lokasi sebelah timur laut Singapura.
Oasis itu adalah Kampong Lorong Buangkok, desa terakhir di Singapura yang masih hidup, di mana sisa-sisa kehidupan era '60-an masih bisa disaksikan.
Di kampung dengan luas tiga hektare itu, tak ada panorama gedung pencakar langit yang lazin dtemukan di setiap penjuru Singapura. Alih-alih bangunan beton tinggi, yang ada adalah bungalow yang tampak seperti dalam sebuah kartu pos kuno.
Ada sekitar 25 rumah kayu berlantai satu dengan atap seng tersebar di sekitar surau di Kampong Lorong Buangkok. Tanaman yang sebelumnya menutupi Singapura, sebelum pembangunan dengan beton yang masif, seperti ketapang, terlihat tumbuh dengan bebas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di dekatnya, kabel listrik tergantung di atas kepala dan hal itu merupakan pemandangan yang langka karena sebagian besar kabel listrik di Singapura kini berada di bawah tanah.
Penghuni lansia terlihat duduk di beranda rumah mereka dan paduan suara kicau jangkrik dan koko ayam, menghilangkan polusi suara kota dan memberikan alunan musik pedesaan yang menenangkan.
Hingga awal era '70-an, kampung-kampung seperti Lorong Buangkok ada di mana-mana di seluruh Singapura. Peneliti dari National University of Singapore memperkirakan ada sebanyak 220 kampung yang tersebar di sana. Saat ini, meski hanya sedikit yang masih ada di pulau-pulau sekitarnya dan Lorong Buangkok adalah desa terakhir di daratan utama Singapura.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai negara muda dengan aspirasi internasional, Singapura mengalami urbanisasi dengan cepat pada era '80-an dan dengan cepat beralih dari ekonomi pertanian ke ekonomi industri.
Ruko yang penuh sesak diganti dengan flat bertingkat tinggi dan gedung pencakar langit yang luas. Masifnya pembangunan membuat harga tanah di pulau itu meroket dan kampung-kampung pedesaan harus menyingkir.
Ratusan desa tradisional dibuldoser, tanaman asli dilucuti, jalur tanah diratakan dan kehidupan asli pedesaan dihancurkan sebagai bagian dari program pemukiman kembali di seluruh pemerintah.
Penduduk desa kemudian digiring ke rumah susun bersubsidi yang dibangun pemerintah yang didirikan di atas lahan tempat rumah lama mereka berada. Saat ini, tercatat ada lebih dari 80 persen orang Singapura tinggal di bangunan rumah susun ini.
Digemari Wisatawan
Salah satu alasan Lorong Buangkok berhasil lolos dari nasib yang menimpa kampung-kampung lain adalah karena kawasan sekitarnya tidak begitu diminati untuk pengembangan komersial, industri, dan pemukiman seperti di tempat lain di Singapura, meski perlahan hal itu berubah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!