Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Alarm Kredit UMKM! Tumbuh Cuma 1 Persen, Ekonom Ungkap Masalah Struktural yang Menghambat

📅 Minggu, 26 Jul 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Alarm Kredit UMKM! Tumbuh Cuma 1 Persen, Ekonom Ungkap Masalah Struktural yang Menghambat Doc: Antara
Ket. Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet.

Jakarta – Pertumbuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga Juni 2026 hanya mencapai sekitar 1 persen, jauh tertinggal dibandingkan pertumbuhan kredit nasional yang tumbuh 12,6 persen. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kesenjangan tersebut mencerminkan masih adanya persoalan struktural yang menghambat penyaluran pembiayaan ke sektor UMKM. Menurutnya, penguatan ekosistem pembiayaan menjadi langkah penting agar target peningkatan porsi kredit UMKM dapat tercapai.

"Kesenjangan antara pertumbuhan kredit UMKM yang hanya sekitar 1 persen hingga Juni 2026 dan pertumbuhan kredit nasional sebesar 12,6 persen menunjukkan persoalan yang bersifat struktural. Padahal, UMKM menyumbang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar," kata Yusuf di Jakarta, Sabtu (25/7).

Menurut Yusuf, persoalan tidak hanya terletak pada akses pembiayaan, tetapi juga lemahnya permintaan akibat menurunnya daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah. Kondisi tersebut menekan omzet dan arus kas pelaku UMKM sehingga memengaruhi kemampuan mereka mengakses kredit.

Di sisi lain, perbankan masih memandang UMKM sebagai segmen berisiko tinggi karena banyak pelaku usaha belum memiliki pembukuan yang rapi, legalitas usaha yang lengkap, maupun rekam jejak keuangan yang memadai.

Kondisi itu, lanjutnya, menjelaskan mengapa pertumbuhan kredit korporasi mampu mendekati 20 persen. Perbankan cenderung menyalurkan pembiayaan kepada debitur yang memiliki agunan kuat, arus kas stabil, serta informasi keuangan yang lebih transparan.

"Karena itu, peningkatan pembiayaan UMKM tidak cukup mengandalkan subsidi bunga atau mengejar target penyaluran kredit. Yang dibutuhkan adalah penguatan ekosistem agar UMKM menjadi lebih layak dibiayai," ujarnya.

Yusuf menilai regulasi seperti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 19 Tahun 2025 telah mengarah pada penguatan ekosistem pembiayaan, antara lain dengan membuka pemanfaatan data alternatif, seperti riwayat transaksi digital dan kekayaan intelektual, dalam proses penilaian kredit.

Namun, implementasi regulasi tersebut perlu dibarengi peningkatan kapasitas pelaku UMKM, mulai dari pembukuan sederhana, pemisahan rekening usaha dan pribadi, hingga digitalisasi transaksi. Menurutnya, kualitas data yang lebih baik akan meningkatkan akurasi penilaian risiko oleh perbankan.

Selain itu, Yusuf menekankan bahwa pembiayaan harus diikuti kepastian pasar. Jika permintaan belum pulih, tambahan kredit justru berpotensi meningkatkan beban utang tanpa mendorong produktivitas.

Ia mencontohkan pengalaman Korea Selatan dan Thailand, di mana UMKM yang terhubung dengan rantai pasok perusahaan besar melalui kontrak jangka panjang memiliki arus kas lebih stabil sehingga lebih mudah memperoleh pembiayaan.

"Model seperti ini layak diperkuat di Indonesia melalui insentif bagi korporasi yang bermitra dengan UMKM," katanya.

Menurut Yusuf, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga perlu terus difokuskan pada sektor produktif agar memberikan dampak lebih besar terhadap investasi dan penciptaan nilai tambah.

Kualitas Kredit

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mobil Tabrak Kerumunan Oran...
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.