Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Penyakit Tanpa Gejala yang Merusak Organ

📅 Senin, 17 Feb 2020, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Penyakit Tanpa Gejala yang Merusak Organ Doc: ist

Setiap 70 detik, ada kasus baru infeksi menular seksual (IMS), termasuk sifilis atau penyakit yang dikenal juga dengan nama raja singa.

Menurut laporan dari Terrence Higgins Trust dan The British Association for Sexual Health and HIV (BASHH), bahwa orang yang didiagnosa sifilis saat ini jumlahnya adalah yang tertinggi sejak Perang Dunia II dan beberapa infeksi menular lainnya yang tidak terdiagnosa menjadi permasalahan kesehatan seksual yang cukup serius.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sepanjang Juli hingga September 2019, tercatat sekitar 1.586 pasien sifilis yang diobati di Indonesia, dari beragam kelompok risiko.

Seperti perempuan pekerja seksual, laki-laki pekerja seksual, lelaki seks dengan lelaki, injection drug user (IDU), waria, pasangan dengan risiko tinggi dan pelanggan pekerja seksual. Untuk itu, pengetahuan masyarakat terhadap penyakti sifilis perlu diketahui agar bisa melakukan deteksi dini terkait penyakit ini.

"Itu karena, sifilis merupakan penyakit menular seksual yang bisa menyerang organ lain, seperti jantung, otak dan saraf pada tahap lanjut di kemudian hari," ujar Anthony Handoko, CEO Klinik Pramudia pada acara Seminar Media mengenai Sifilis. Sifilis adalah IMS yang disebabkan oleh bakteri TreponemPallidum yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ seperti otak, sistem saraf, serta jantung, bahkan dapat mengancam jiwa. Terlebih, sifilis merupakan penyakit yang bersifat 'diam' atau tidak memiliki gejala-gejala yang terasa di awal. Sehingga, ketika seseorang sudah terkena sifilis umumnya ia sudah berada di stadium dua.

"Kalau dahulu, banyak yang terkena sifilis primer (stadium satu) dan jarang yang sekunder (stadium dua). Kalau sekarang, justru malah tidak ada yang primer dan angkanya meningkat untuk yang sekunder," kata Wresti Indriatmi, Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit PusatNasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada kegiatan yang sama. Menurutnya, itu karena pada sifilis primer tidak ada gejala-gejala sakit yang terasa.

Padahal, ketika itu bakteri telah memperbanyak di tempat inokulasi dan membentuk lesi pada kulit yang bersifat keras dan tidak gatal dengan diameter antara satu hingga dua cm.

Alasan lainnya adalah, karena sifilis merupakan infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti genital-genital, anus-genital, oral-genita. Sehingga, lesi tersebut terbentuk pada daerah-daerah genital dan menyebabkannya tidak terasa pada pasien.

"Semisal lesi tersebut ada pada dalam vagina atau dalam anus, ia sendiri pun belum tentu tahu kalau ada luka itu karena letaknya di dalam dan tidak sakit," jelas Wresti. Untuk itu, ada beberapa gejala sifilis yang perlu diketahui agar dapat mencegah penyakit yang bertambah parah.

Seperti adanya luka pada alat kelamin yang tidak nyeri, baik tunggal dan banyak, pembesaran kelenjar getah bening regional, ruam besar di kulit dan selaput lendir di seluruh bagian tubuh.

Pencegahan dengan Penggunaan Kondom

Meskipun tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan pada jumlah laki-laki dan perempuan terkait penyakit sifilis ini, namun Wresti menuturkan bahwa penderita laki-laki cenderung lebih banyak. Ia mengatakan, alasannya kemungkinan karena adanya laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, bukan oleh sebab lainnya. "Pada laki-laki sebenarnya sama saja dengan perempuan, jadi bukan berarti mereka lebih berisiko.

Hanya saja, ada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, jadi jumlah penderitanya lebih banyak laki-laki," katanya. Untuk itu, ada baiknya bersiaga untuk melakukan pencegahan agar tidak menyebar ke orang lain.

Karena, dengan sekali saja berhubungan seksual, seseorang yang terinfeksi sifilis maka dapat dipastikan seseorang itu akan tertular. Karenanya, hindari kegiatan yang dapat menulari penyakit, seperti kontak seksual tanpa pengaman dengan berganti-ganti pasangan, penggunaan alat suntik bersama, pemasangan tato atau tindik yang tidak steril, serta transfusi darah pemeriksaan.

Penggunaan kondom yang berguna untuk mengurangi risiko terkena penyakit menular seksual, pada sifilis tidak benar-benar bisa melindungi. Itu karena kondom tidak menutupi area penis secara keseluruhan, sehingga menggunakan kondom masih berisiko menularkan dan tertularkan sifilis. "Makanya, harus abstensi dahulu, tidak usah berhubungan seksual sama sekali apabila menderita sifilis," kata Wrenti.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Jakarta Kena Sebaran Abu Vulkanik
    Sangat mungkin terjadi erupsi yg lebih besar, kemarin ...
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
Daerah
Kemenhub Larang Kapal Mende...
Advertisement
Maskapai Garuda Indonesia Hentikan Layanan Penerbangan hingga Senin Siang karena Erupsi Anak Krakatau

Maskapai Garuda Indonesia Hentikan Layanan Penerbangan hingga Senin Siang karena Erupsi Anak Krakatau

06 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.