Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Potensi Teh di Era Kuliner Kekinian

📅 Selasa, 21 Jan 2020, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

"Jadi saya pikir jika berbicara soal tren, matcha tentu tidak hanya memikat dalam hal rasa minuman saja. Tapi ke depan bahan ini ketika diaplikasikan ke dalam makanan juga bisa menjadi tren kembali," tandasnya.

Teh Lokal Harus Berjaya

Tentu popularitas matcha cukup menggelitik, apalagi ketika kita lebih mengenal sebegitu mendalamnya produk teh asing, ketimbang lokal. Apakah benar teh lokal kehilangan tajinya?

Tentu tidak demikian, ada beberapa persoalan yang cukup mendasar menyelimuti 'harum' produk teh dalam negeri. Secara logika, Indonesia menduduki peringkat ke-8 sebagai penghasil teh terbesar di dunia. jadi seharusnya memang Indonesia memiliki produk teh berkualitas yang mampu bersaing dengan olahan teh dari berbagai negara.

Ratna menjabarkan, persoalan teh di Indonesia kini itu terbelenggu pada pola pikir masyarakat yang selama ini menganggap teh lokal merupakan produk minuman biasa.

Belajar dari Jepang, matcha memiliki sejarah panjang selama lebih dari 800 tahun, yang hingga kini selalu diidentikkan sebagai minuman khas raja maupun bangsawan.

Di negeri sakura itu matcha juga diposisikan sebagai warisan kebudayaan turun-temurun di setiap keluarga pembudidaya. Menghargai setiap tahap dalam matcha menjadi faktor wajib yang harus diperhatikan demi menjaga tradisi, kelestarian dan tentu dari segi kualitasnya.

Perbedaan teh lokal dengan matcha juga terang benderang ketika melihat teh di Jepang selalu diposisikan sebagai sebuah tradisi minuman mewah, ekslusif yang hanya dikonsumsi oleh keluarga kerajaan maupun para bangsawan, sedangkan di Indonesia tidak demikian secara tradisi maupun mindset.

"Alhasil keberadaannya diinterpretasikan sebagai sesuatu yang murah. Market yang dibentuk adalah yang massal produk saja. Karena produksinya secara besar-besaran, jadi tidak bisa dijual mahal.

Akhirnya produk teh yang kita miliki itu-itu saja sehingga tidak terendus potensinya," terang Ratna. Kendati demikian, Ratna tetap optimistis terhadap popularitas teh dalam negeri ke depan, apalagi bahan ini (teh) mulai terendus tajinya di kalangan pencinta kuliner Indonesia, sekaligus menjadi angin segar peluang memajukan industri teh dalam negeri. ima/R-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Teknologi Makin Canggih, Kenapa Hilirisasi Indonesia Masih Tersendat?
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai kendala hilirisasi; dari ...
  • Ambisi Semikonduktor Nasional Terhalang Ekosistem Industri
    Preview komentar:
    Tantangan mendasar yang dipaparkan secara tajam dalam artikel ...
  • Pemprov Kaltara Dorong UMKM Dilibatkan dan Masuk Kawasan Industri
    Preview komentar:
    Langkah strategis Pemprov Kaltara memfasilitasi UMKM lokal untuk ...
Daerah
NTT Kembali Diguncang Gempa...
Nasional
KPK Usut Izin WNA, Dugaan K...
Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

19 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.