Remaja Bersenjata Tewaskan 4 Orang di Sekolah Menengah di Georgia, AS
📅 Kamis, 05 Sep 2024, 10:16 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP
WINDER - Seorang remaaja pria bersenjata berusia 14 tahun menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk dua siswa, dan melukai sembilan lainnya ketika melepaskan tembakan di sebuah sekolah menengah di negara bagian Georgia, AS, pada hari Rabu (4/9).
Pelaku penembakan yang juga seorang siswa di sekolah tersebut telah ditahan. Ia akan didakwa dengan tuduhan pembunuhan dan diadili sebagai orang dewasa, kata Biro Investigasi Georgia.
Selain siswa, dua guru termasuk di antara yang tewas.
Setelah babak terbaru krisis kekerasan senjata di Amerika -- tahun ini saja hampir 400 kasus penembakan massal, menurut satu penghitungan -- orang-orang berkumpul di lapangan olahraga di luar Sekolah Menengah Atas Apalachee, beberapa membentuk lingkaran dengan tangan saling bertautan.
"Petugas sumber daya sekolah kami mempekerjakannya," kata sheriff daerah Jud Smith kepada wartawan, mengacu pada petugas penegak hukum yang dipekerjakan untuk bekerja di sekolah-sekolah AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Si penembak segera menyadari bahwa jika ia tidak menyerah, maka hal itu akan berakhir dengan OIS -- penembakan yang melibatkan petugas. Ia menyerah, tiarap, dan deputi menahannya."
Rabu malam, FBI mengungkapkan tersangka telah dilaporkan lebih dari setahun lalu atas ancaman akan melakukan penembakan di sekolah.
Pada saat itu kantor sheriff daerah mewawancarai ayah dan tersangka yang saat itu berusia 13 tahun, yang membantah ancaman tersebut, sebelum melaporkan anak tersebut ke pejabat sekolah untuk diawasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Smith mengatakan polisi belum mengetahui apakah penembak menargetkan orang tertentu. Pihak berwenang belum mengidentifikasi senjatanya.
Beberapa orang di sekolah awalnya mengira itu hanya latihan menembak biasa, kata seorang siswa kepada AFP, merujuk pada latihan yang umum dilakukan di sekolah-sekolah AS.
"Semua orang mengira itu latihan sampai guru saya mengatakan kami tidak mendapat email," kata Alexsandra Romeo.
"Dia menempatkan kami semua di sudut dan semua orang saling berpelukan, saya melihat beberapa teman saya menangis. Sampai dua petugas polisi datang dengan senjata mereka dan mengatakan kepada kami bahwa ini bukan latihan dan bahwa kami masih belum aman."
Siswa lainnya, Stephanie Folgar yang berusia 17 tahun, menceritakan mendengar "suara ledakan keras" dan para siswa yang panik bersembunyi di kamar mandi dan lemari.
"Menakutkan mengetahui bahwa itu bisa saja terjadi padamu," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!