Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ratusan Penumpang Padati Dermaga Banda Neira, Antre Kapal Pelni Menuju Ambon

📅 Minggu, 26 Okt 2025, 12:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ratusan Penumpang Padati Dermaga Banda Neira, Antre Kapal Pelni Menuju Ambon Doc: Antara Foto
Ket. Petugas dan warga membantu menaikkan calon penumpang yang sedang sakit masuk ke dalam kapal Pelni KM Sangiang di Pelabuhan Banda Neira, Maluku Tengah yang hendak dirujuk ke rumah sakit yang ada di Ambon, Kamis (23/10/2025).

Ratusan penumpang berdesakan di dermaga kecil Banda Neira, Maluku Tengah. Di bawah langit sore yang perlahan meredup, mereka menanti kapal Pelni yang akan berangkat menuju Ambon.

Di pulau yang hanya bisa dijangkau lewat laut dan udara terbatas, setiap kedatangan kapal menjadi peristiwa besar. Bukan sekadar perjalanan, tapi pertaruhan waktu, logistik, dan nasib banyak orang.

Banda Neira, pulau mungil di gugusan Laut Banda, menyimpan sejarah besar yang mengubah wajah dunia. Dari sinilah pala pernah menjadi rebutan bangsa Eropa, ratusan tahun lalu.

Kini, sejarah itu berganti rupa. Banda Neira tidak lagi menjadi pusat perdagangan rempah dunia, melainkan simbol ketabahan masyarakat di wilayah terluar yang bertahan dengan irama laut.

Berbanding terbalik dengan Jakarta yang bergerak dengan moda transportasi canggih, Banda Neira masih hidup dengan kesabaran. Di sini, waktu berjalan pelan bersama jadwal kapal yang tidak menentu.

Warga harus menunggu tiga, hingga empat hari, hanya untuk keluar pulau. Kapal Pelni menjadi satu-satunya tumpuan, menyeberang selama 14 jam menuju Ambon, berdamai dengan ombak, jarak, dan waktu.

Begitulah Banda Neira. Di antara laut yang biru dan langit yang luas, setiap keberangkatan kapal, bukan hanya rutinitas, tapi denyut kehidupan yang menjaga pulau ini tetap bernapas.

Bangunan tua berwarna biru di tepi pelabuhan menjadi saksi kesibukan sore itu. Deretan motor parkir rapat, sementara warga menenteng karung, koper, dan tas hendak masuk ke dalam kapal.

Ketika tangga besi dibentangkan ke lambung kapal putih bertuliskan “PELNI”, antrean panjang mulai bergerak perlahan, meniti pijakan sempit, dengan hati-hati sambil membawa barang bawaan.

Bukan hanya penumpang yang naik, tetapi juga logistik kehidupan, beras, minyak, sayur-mayur, hingga paket dari keluarga di Ambon dan Jakarta, semua ikut menumpang harapan dalam satu pelayaran.

Kapal Pelni menjadi urat nadi yang menyambung Banda Neira dengan dunia luar. Tanpanya, harga-harga kebutuhan bisa melambung tinggi dan arus ekonomi di pulau itu akan terhenti.

Di antara hiruk pikuk itu, beberapa awak kapal berseragam putih berjaga di tangga kapal. Mereka membantu penumpang naik satu per satu, memastikan semua bisa berangkat dengan aman dan tenang.

Hening seketika menyelimuti dermaga, saat sebuah ambulans masuk pelabuhan. Warga spontan menyingkir, memberi jalan bagi tandu sederhana yang membawa seorang perempuan lemah yang diarak masuk ke dalam KM Sangiang.

Wajahnya pucat, namun matanya terbuka lemah menatap kapal yang akan membawanya ke rumah sakit di Ambon. Di matanya, kapal ini adalah harapan yang menyeberangi laut untuk menyelamatkan hidupnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.