Peneliti UGM Soroti Tren Alergi Anak dan Pentingnya Edukasi Orang Tua
📅 Selasa, 30 Sep 2025, 17:50 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Freepik
Kasus alergi pada anak di Indonesia terus menunjukkan tren kenaikan. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena dapat memengaruhi tumbuh kembang anak jika tidak ditangani secara tepat. Data World Allergy Organization (WAO) mencatat prevalensi alergi secara global berada di kisaran 10–40 persen populasi. Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan sekitar 0,5–7,5 persen anak Indonesia mengalami alergi.
Dokter Spesialis Anak Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Cahya Dewi Satria, M.Kes, SpA, Subsp. AI, menjelaskan bahwa alergi merupakan penyakit bawaan yang dapat diturunkan dari orang tua maupun anggota keluarga lain. Alergi muncul ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain. “Ketika tubuh sudah membentuk antibodi spesifik terhadap suatu protein, maka pada paparan berikutnya dapat muncul reaksi alergi,” terangnya, Selasa (30/9).
Ia memaparkan konsep "Allergic March", yakni tahapan munculnya alergi sesuai fase usia. Pada bayi, alergi biasanya muncul sebagai eksim atau dermatitis atopik. Memasuki usia 6 bulan hingga 2 tahun, alergi makanan lebih sering terjadi. Sementara pada usia 7–10 tahun, anak lebih rentan mengalami rinitis alergi. “Kondisi ini menunjukkan bahwa alergi dapat berkembang dari satu bentuk ke bentuk yang lain,” ujarnya.
Cahya menekankan pentingnya membedakan gejala normal dengan gejala alergi. Gejala alergi biasanya berulang dan tidak disertai demam, berbeda dengan infeksi. “Untuk menentukan apakah suatu gejala merupakan alergi, kita harus melihat riwayat keluarga, kronis atau tidak gejala tersebut, serta memastikan tidak ada infeksi,” katanya.
Beberapa jenis makanan seperti susu sapi, telur, kacang-kacangan, dan makanan laut menjadi pemicu utama alergi pada anak. Ia menjelaskan, reaksi alergi berawal dari proses sensitisasi ketika sistem imun pertama kali mengenali alergen. Reaksi berlebihan baru muncul saat terjadi paparan ulang. Sementara itu, desensitisasi dapat membantu tubuh membangun toleransi, namun harus dilakukan secara hati-hati dengan pengawasan dokter. “Untuk melakukan desensitisasi harus sangat berhati-hati dan harus dilakukan dengan protokol ketat di bawah pengawasan dokter,” tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengenai alergi kulit, Cahya menyinggung hipotesis "hygiene hypothesis". Anak yang tumbuh di lingkungan terlalu steril justru berisiko lebih tinggi mengalami alergi, sedangkan mereka yang terbiasa dengan paparan mikroorganisme beragam cenderung memiliki daya tahan tubuh lebih kuat. Pada anak dengan gangguan barier kulit, penggunaan pelembab menjadi langkah penting agar alergen tidak mudah masuk. “Hal-hal yang membuat kulit semakin kering, seperti antiseptik, sebaiknya dihindari. Gunakan sabun khusus dan pelembab untuk menjaga kelembaban kulit,” tambahnya.
Menurut Cahya, meningkatnya kasus alergi pada anak di Indonesia dipengaruhi faktor lingkungan dan gaya hidup. Meski kesadaran masyarakat mulai tumbuh, masih banyak orang tua yang salah memahami gejala sehingga melakukan pantangan makanan berlebihan. “Padahal, pembatasan diet tanpa dasar medis justru dapat mengganggu tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Sebagai pencegahan, ia merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan anak. Paparan asap rokok, baik sejak kehamilan hingga masa pertumbuhan, juga harus dihindari karena dapat meningkatkan risiko alergi. Ia menegaskan, formula susu kedelai tidak terbukti efektif mencegah alergi pada anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pencegahan alergi membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari edukasi orang tua hingga pemeriksaan medis. Akan lebih baik jika penanganan timbulnya gejala pada anak diserahkan pada dokter spesialis kompeten agar diagnosis tepat dan dapat mengurangi dampak alergi pada generasi mendatang,” pungkas Cahya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!