Pakar Ungkap Empat Dampak Positif Penjurusan SMA
📅 Senin, 14 Apr 2025, 22:24 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Tangkapan layar TVR Parlemen
JAKARTA - Pakar pendidikan dari Tamansiswa, Ki Darmaningtyas, mengungkapkan ada empat dampak positif penjurusan SMA. Pertama, meski tampak lebih tegas, penjurusan SMA tidak membuat pembelajaran tumpang tindih dan dapat membantu membekali murid yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
"Mereka yang akan melanjutkan ke prodi teknik misalnya, akan memperkuat mata pelajaran fisika dan matematika. Mereka yang akan melanjutkan ke farmasi dan kedokteran akan memperkuat mata pelajaran biologi dan kimia, dan seterusnya," ujar Darmaningtyas, di Jakarta, Senin (14/4).
Kedua, lanjut dia, murid lebih mudah memilih fokus pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan bakat dan sangat membantu memilih fakultas yang akan dimasuki saat mendaftar di perguruan tinggi. Ketiga, kebutuhan infrastruktur fisiknya juga dapat diketahui secara pasti.
Darmaningtyas menyebut, dampak positif keempat yaitu sekolah lebih mudah mengatur jadwal pembelajaran. Kebutuhan guru untuk masing-masing mata pelajaran dalam satu kelas sudah diketahui secara pasti, sehingga ketika jumlah gurunya tidak mencukupi, kekurangannya dapat diprediksi secara pasti.
"Bagi pemerintah sendiri, jauh lebih mudah memprediksikan kebutuhan guru SMA untuk masing-masing mata pelajaran," jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai informasi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti akan menghidupkan kembali sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA mulai tahun ajaran baru 2025/2026. Kebijakan ini selaras dengan program Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pengganti Ujian Nasional dan bisa menjadi landasan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Kebijakan Realistis
Darmaningtyas mengakui adanya sisi negatif dari penjurusan SMA yaitu pada aspek sosiologis. Menurutnya, ada persepsi keliru bahwa Jurusan IPA adalah jurusan yang paling top. Padahal tidak demikian.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Di tengah berkembangnya profesi baru yang memberikan imbalan tinggi dan justru itu banyak didominasi oleh mereka yang berlatar belakang sosial humaniora, persepsi negatif itu lama-lama akan terkikis juga," katanya.
Berdasarkan kondisi tersebut, dia menilai, mengembalikan penjurusan SMA merupakan kebijakan yang paling realistis. Terutama untuk mengatasi persoalan ketersediaan guru, keterbatasan prasarana dan sarana, serta pertimbangan linieritas dalam melanjutkan stui ke perguruan tinggi.
"Kembali ke penjurusan tidak dosa, karena kebetulan peminatan ini juga baru dalam taraf uji coba, dan ternyata hasil uji cobanya tidak recomended untuk dilanjutkan karena adanya berbagai kendala di lapangan," tuturnya.
Darmaningtyas menyarankan, penjurusan SMA dapat dilakukan pada semester kedua Kelas X asal satu semester sebelumnya sudah dapat mengenali semua mata pelajaran di SMA. Hal ini penting sebagai dasar untuk memilih jurusan dan siswa tidak terlalu lama terbebani untuk belajar banyak mata pelajaran.
"Bisa juga penjurusan dilakukan saat naik Kelas XI dengan pertimbangan murid mempunyai waktu cukup untuk menemukan minat dan talentanya. Hanya saja untuk ini dibutuhkan bimbingan yang intens dari guru, wali kelas, guru konselor dan orang tua," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!