Mencoba Pengalaman Minum Matcha dengan Konsep Wabi-sabi
📅 Rabu, 02 Jul 2025, 19:13 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti
JAKARTA - Matcha atau bubuk teh hijau premium dari Jepang saat ini memang menjadi salah satu dari sekian banyak hal yang digandrungi oleh masyarakat.
Dari kalangan muda sampai tua, setidaknya pernah mencoba matcha. Namun sebagai pemula, anda pasti penasaran, bagaimana cara menikmati matcha tanpa harus merasa tertinggal oleh tren?
Jawabannya, Anda bisa mencoba sebuah konsep estetika dari Jepang yang berakar pada Zen Buddhism dan disebut sebagai konsep "wabi-sabi".
Konsep ini menonjolkan ketidaksempurnaan atau kesederhanaan dari suatu hal. Pada pembuatan matcha, wabi-sabi mengajarkan tidak ada yang salah, tidak ada yang benar.
Wabi-sabi mengajarkan matcha yang enak adalah yang bisa membuat kita senang.
Sebaiknya Anda baca juga:

Ilustrasi ruangan yang disediakan oleh kedai omakase Chontea.co Jakarta untuk meracik matcha. (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)
Jika anda tertarik untuk mencoba konsep ini, anda bisa mengunjungi Chontea.co yang ada di lantai 5 Plaza Senayan, Jakarta. Setelah membuka banyak cabang di Bali, kedai omakase ini memilih Jakarta sebagai tempat berlabuh berikutnya.
Meracik matcha di tempat ini secara ajaib bisa memberikan rasa "healing" bagi anda yang penat akan hiruk pikuk Kota Jakarta. Suasananya sangat tenang, intim yang membuat waktu seakan amat cepat berlalu.
Ruangannya tidak begitu besar dan didominasi oleh banyak warna hitam. Banyak ornamen-ornamen otentik ala Jepang seperti rak bertingkat yang dibingkai kaca, jalan setapak yang dilengkapi bebatuan yang mempercantik dekorasi.
Di dalam ruangan ini Antara berkesempatan untuk mencoba pengalaman meracik matca yang dipandu langsung oleh barista server.
Terdapat ragam alat yang digunakan untuk meraciknya. Peralatan itu terdiri dari whisk yang terbuat dari bambu (chasen), kain putih kecil yang sudah dibasahi oleh air (chakin), sendok bambu (chashaku), gelas teh (chawan), kain sutera (fukusa),wadah penyimpanan matcha (natsume), sendok panjang dari bambu (hishaku) dan ketel besi (chagama).
Pengalaman pertama yang bisa didapatkan adalah menyusun semua alat tersebut sesuai dengan aturan paling dasar yang sudah diterapkan sejak dulu oleh masyarakat Jepang.
Peletakan alat-alat harus sesuai dengan jarum jam. Misalnya, whisk bambu harus diletakkan searah jam 1, kain putih kecil pada arah jam 3, sendok bambu di jam 4, kain sutera di jam 9 dan wadah matca di jam 11.
Khusus untuk whisk bambu, perlu anda perhatikan bahwa terdapat tali yang dianggap sabuk. Pastikan bahwa tali sabuk selalu menghadap ke arah anda dalam posisi tegak berdiri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!