Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lima Tahun Perjalanan Krisis Pengungsi Rohingya

📅 Selasa, 27 Des 2022, 08:39 WIB | Oleh:
Lima Tahun Perjalanan Krisis Pengungsi Rohingya Doc: Rahmat Mirza/AP Photo
Ket. Seorang pria etnis Rohingya terbaring di tanah saat dia menunggu perawatan medis, di Ladong, Aceh Besar.

SURABAYA - Baru-baru ini, sebanyak 57
pengungsi etnis Rohingya dalam kondisi kelaparan dan lemah tiba di pantai Indrapatra di Ladong, sebuah desa nelayan di kabupaten Aceh Besar.

Kedatangan para pengungsi pada Minggu (25/12) itu menandai peringatan kelima penumpasan militer yang menurut PBB dilakukan dengan 'niat genosida'.

Dilansir oleh Aljazeera, militer Myanmar pada 2017, melancarkan tindakan keras terhadap kaum Rohingya, mendorong lebih dari 740.000 orang melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Berikut adalah tanggal-tanggal penting dalam krisis lima tahun ini.

Operasi militer

Pada 25 Agustus 2017, sebuah kelompok bersenjata bayangan Rohingya, yang disebut Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), melancarkan serangan terkoordinasi terhadap puluhan pos polisi di negara bagian pesisir Rakhine Myanmar, menewaskan sedikitnya selusin petugas.

Militer negara itu membalas dengan operasi di desa Rohingya, seolah-olah untuk mengusir anggota ARSA. Dikatakan telah menewaskan 400 pejuang bersenjata, tetapi para kritikus mengatakan sebagian besar yang tewas adalah warga sipil. PBB mengatakan sedikitnya 1.000 orang tewas dalam dua minggu pertama operasi militer.

Eksodus pengungsi

Pada 5 September 2017, lebih dari 120.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, membanjiri kamp-kamp pengungsi yang tidak kurang layak. Sudah ada setidaknya 200.000 Rohingya di Bangladesh dari gelombang kekerasan sebelumnya.

Aung San Suu Kyi memecah keheningan

Kemarahan internasional meningkat terhadap Myanmar. Militer dituduh menghancurkan rumah Rohingya dan beberapa pemimpin dunia menuduh "pembersihan etnis".

Dalam pernyataan pertamanya tentang krisis tersebut, pemimpin sipil Myanmar dan peraih Nobel Aung San Suu Kyi pada 19 September 2017 berjanji untuk meminta pertanggungjawaban para pelanggar tetapi menolak untuk menyalahkan tentara.

Kemungkinan 'genosida'

Bangladesh dan Myanmar pada 23 November 2017 sepakat untuk mulai memulangkan pengungsi. Tetapi, Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) mengatakan, kondisi tidak memungkinkan untuk mereka pulang dengan aman dan prosesnya terhenti.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Iran Akan dibombardir Selama Dua Tahun Penuh

19 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Luar Negeri
Iran Akan dibombardir Selam...

Piala Dunia, Swiss Yakin Akan Gulung Bosnia  

22 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Swiss Yakin Ak...

Ekspor Kakao Tetap Berjalan Baik dan Bahkan Tumbuh

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Ekspor Kakao Tetap Berjalan...

Makassar Klaim Akan Sukses Verifikasi SPMB

28 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Makassar Klaim Akan Sukses ...
Megapolitan
Wali Kota Depok: Berikan Da...

Tiga Negara Super Power Ini Harus Hancurkan Nuklir

33 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Luar Negeri
Tiga Negara Super Power Ini...
  • Pemkot Bandung Bongkar 174 Bangunan Liar di Jalan Terusan Pasirkoja
    Preview komentar:
    Parkir liar gimana nihhh dijalan kebon jati,, itu ...
  • Jakarta Siapkan Diri Menuju Kota Berbasis AI
    Preview komentar:
    Cara buka Blokir Bank Jago lupa Password. Anda ...
    Cara buka Blokir Bank Jago lupa Password. Anda ...
  • Malasyia Mencak-mencak Kebakaran Jenggot Dimasukkan ke Dalam Kelas Dua Sepak Bola Asean
    Preview komentar:
    Jiran kita kejet-kejet tanpa bisa berbuat apa2
KPK akan Periksa Lagi Ahmad Dedi, Pejabat Bea Cukai yang Viral karena Lari dari Wartawan

KPK akan Periksa Lagi Ahmad Dedi, Pejabat Bea Cukai yang Viral karena Lari dari Wartawan

18 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.