Kisah Asbjorn Halvorsen dan Otto Fritz Harder, Dua Rekan Tim Sepak Bola yang Menjadi Musuh Akibat Perang Dunia II
📅 Minggu, 05 Mar 2023, 21:03 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Istimewa
Stasiun kereta api Hamburg pada September 1933 menjadi tempat perpisahan antara dua rekan setim yang telah meraih begitu banyak prestasi. Di stasiun itu, Asbjorn Halvorsen akan melakukan perjalanan pulang ke Norwegia. Gelandang tengah itu merupakan pemain penting yang mengatur serangan klub sepak bola Hamburg. Halvorsen adalah salah satu bintang asing pertama dalam kancah sepak bola Jerman.
Pria lainnya, Otto Fritz 'Tull' Harder, merupakan penyelesai umpan-umpan Halvorsen. Harder adalah seorang penyerang dengan kekuatan besar dan gol-golnya telah membawa Hamburg meraih gelar di kompetisi Liga Jerman pada 1923 dan 1928.
Harder bergegas ke stasiun untuk berterima kasih kepada Halvorsen atas kebersamaan mereka dan berharap dia baik-baik saja di Norwegia.
Tidak ada yang tahu, pada saat itu, mereka memilih jalur yang sangat berbeda dan menjadi lawan di kemudian hari.
Saat berusia 34 tahun, Halvorsen pensiun dari sepak bola untuk mengambil peran di Asosiasi Sepak Bola Norwegia. Dia akan memimpin tim nasional Norwegia meraih medali perunggu pada Olimpiade 1936 di Berlin - sampai saat ini merupakan satu-satunya penghargaan sepak bola internasional negara itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tapi namanya paling dikenang dalam rentetan peristiwa Perang Dunia Kedua. Kala itu, Halvorsen merupakan anggota perlawanan yang berperang mengusir penjajah Nazi di Norwegia. Namun, dia ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi.
Di sisi lain, Harder menempuh jalur yang berlawanan. Saat peta politik dan militer berubah drastis di Jerman, dia bergabung dengan pasukan SS. Pasukan itu adalah bagian dari Reich Ketiga yang ditakuti. Awalnya unit itu bertugas menjadi pengawal pribadi Adolf Hitler, namun perannya diperluas untuk melenyapkan target "politik dan ras" Nazi.
Harder naik pangkat menjadi komandan di salah satu kamp konsentrasi tempat Halvorsen akan dikirim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tidak disangka mereka bertemu lagi, namun pada posisi yang berlawanan. Pada saat Halvorsen tiba di kamp Neuengamme pada April 1945, Harder menjadi komandan kamp itu.
Kondisi kesehatan yang diderita Halvorsen disebabkan oleh kebijakan-kebijakan Harder. Kematian Halvorsen, pada bulan Juni 1955, mungkin karena penyakit tifus yang diidap di kamp.
Jurgen Kowalewski adalah pensiunan guru sejarah dari Hamburg yang meneliti kehidupan Halvorsen sebagai proyek dua tahun bersama murid-muridnya. Mereka telah mengunjungi tugu peringatan kamp konsentrasi, bekas rumah Halvorsen di Hamburg, dan klub kampung halamannya di Norwegia.
"Kami masih berjuang untuk menamai sebuah jalan di Hamburg dengan namanya," kata Kowalewski.
Upaya itu sejauh ini sia-sia, meski kisah luar biasa Halvorsen pantas untuk lebih dikenal.
Saat berusia 18 tahun, Halvorsen menjadi kapten dan mencetak gol untuk klub kampung halamannya Sarpsborg dalam pertandingan final Piala Norwegia 1917, mengalahkan Brann Bergen 4-1.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!