Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keuntungan Kejahatan Ransomware Memang Luar Biasa. Lalu Berapa Untungnya?  

📅 Kamis, 30 Okt 2025, 03:32 WIB | Oleh:
Keuntungan Kejahatan Ransomware Memang Luar Biasa. Lalu Berapa Untungnya?    Doc: ist
Ket. kejahatan siber

JAKARTA – Maraknya kejahatan siber ransomware bisa dimengerti karena keuntungannya memang luar biasa. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebutkan pelaku kejahatan siber ransomware mampu meraup keuntungan sangat besar hanya dengan mengeluarkan modal yang relatif kecil. Wakil Ketua Komite Tetap Keamanan Siber dan Perlindungan Infrastruktur Kritis Kadin Indonesia Dea Saka Kurnia Putra mencontohkan, dengan modal 5000 dolar AS atau sekitar Rp82 juta, pelaku ransomware bisa meraup keuntungan hingga 100 ribu dolar AS atau Rp1,8 miliar.

"Modal awalnya sangat murah, teman-teman cukup bayar Rp30 juta untuk subscribe (berlangganan) ransomware, bisa dari Lockbit, Qilin, dan lain-lain," kata Putra dalam sebuah sesi diskusi di ajang National Cybersecurity Connect 2025 di Jakarta Selatan, Rabu.

Dea memaparkan perubahan struktur bisnis kejahatan siber makin terorganisir di mana model operasinya kini melibatkan berbagai peran mulai dari pengembang malware, mitra afiliasi yang melakukan penyebaran malware, hingga pihak yang menjual akses awal ke jaringan korban.

Ia menjelaskan terdapat beberapa model bisnis yang digunakan kelompok ini, seperti skema afiliasi, bagi hasil, pembayaran sekali, dan model berlangganan. Umumnya sindikat pelaku kejahatan ransomware menyasar perusahaan level menengah dan kecil. Untuk menjabarkan skema modalnya, Putra mencontohkan, pelaku kejahatan siber membayar 2.000 dolar (Rp33 juta) untuk berlangganan ransomware, lalu 1.500 AS (Rp24 juta) untuk broker akses awal yang menjual akses ke jaringan/komputer korban.

Kemudian, pelaku membayar 1.000 dolar AS (Rp16 juta) untuk layanan bulletproof hosting yang sengaja mengabaikan penyalahgunaan dan menolak permintaan penghapusan konten berbahaya. Lalu untuk pengaburan jejak atau penyamaran transaksi, pelaku membayar 500 dolar AS (Rp8 juta).

"Skemanya (pembagian keuntungan) 70 persen itu untuk afiliate, kita (pelaku) sebagai afiliate, dan 30 persennya kita kembalikan ke pusatnya. Ibaratnya seperti franchise gitu," ujar Putra. Dia menambahkan, modal yang dikeluarkan kembali hanya dalam 90 jam dan keuntungan yang didapat bisa mencapai 1.300 persen dalam kurang dari empat hari.

Literasi Keuangan

Sementara itu, peningkatan minat masyarakat terhadap aset digital seperti Bitcoin di Indonesia terus melaju pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun di tengah euforia investasi kripto yang kian populer, muncul tantangan serius terkait minimnya literasi dan edukasi keuangan digital. Chief Operating Officer Upbit Indonesia, Resna Raniadi mengatakan bahwa edukasi menjadi kunci agar investor tidak terjebak dalam keputusan emosional yang berujung pada kerugian.

“Kripto bukan sekadar tren, melainkan bagian dari evolusi sistem keuangan global. Karena itu, investor perlu memahami bahwa setiap peluang selalu hadir bersama risiko," kata Resna dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu. Resna menyampaikan, edukasi berkelanjutan berperan penting agar investor mampu mengambil keputusan bijak dan tetap tenang menghadapi volatilitas pasar.

Menurut dia, salah satu kesalahan umum yang kerap dilakukan investor pemula adalah membeli aset digital karena ikut tren tanpa riset mendalam. Selain itu, keputusan investasi yang didorong rasa takut atau serakah juga sering membuat investor menjual saat harga turun dan membeli di puncak harga. “Kedisiplinan dan strategi jangka panjang jauh lebih penting daripada mengejar keuntungan sesaat,” ujarnya.

Upbit Indonesia mencatat beberapa pola kesalahan lain, seperti penggunaan leverage berlebihan tanpa memahami risiko serta kecenderungan mengejar keuntungan cepat tanpa manajemen risiko yang baik. Kondisi ini, kata Resna, menunjukkan perlunya pemahaman menyeluruh terhadap karakteristik pasar kripto yang sangat fluktuatif.

Sebagai perusahaan aset keuangan digital, pihaknya aktif menjalankan berbagai program edukatif yang sejalan dengan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut meliputi publikasi artikel edukasi, penyuluhan daring, serta campus roadshow di berbagai universitas di Indonesia.

“Visi kami adalah membangun ekosistem kripto Indonesia yang aman, transparan, dan berdaya saing global. Hal itu hanya bisa dicapai jika masyarakat memahami cara berinvestasi dengan benar sejak awal,” kata Resna.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.