Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jangan Tertinggal: IPB Soroti Lambatnya Produktivitas Sapi Lokal

📅 Jumat, 01 Mei 2026, 07:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Jangan Tertinggal: IPB Soroti Lambatnya Produktivitas Sapi Lokal Doc: ANTARA/ HO-Barantin Kepri.
Ket. Illustrasi Beberapa sapi ternak di kandang.

BOGOR – Peningkatan produktivitas sapi lokal menjadi kunci untuk memperkuat kemandirian sektor peternakan sekaligus menekan ketergantungan impor daging dan susu.

Upaya ini umumnya ditopang oleh perbaikan genetika melalui inseminasi buatan, peningkatan kualitas pakan, serta manajemen kesehatan ternak yang lebih terukur.

Dengan produktivitas yang lebih tinggi, efisiensi usaha peternak juga meningkat, sehingga berdampak langsung pada pendapatan.

Namun, keberlanjutan peningkatan ini sangat bergantung pada akses teknologi, pendampingan, serta konsistensi kebijakan yang mendukung pengembangan peternakan rakyat.

Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University menilai peningkatan produktivitas sapi lokal perlu dipercepat guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor sapi, khususnya dari Australia.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor dalam keterangannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/4), mengatakan, produksi daging sapi dalam negeri hingga saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan nasional, terutama di kota-kota besar dengan tingkat konsumsi tinggi.

“Populasi sapi potong di dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, khususnya di kota-kota besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, produktivitas sapi lokal masih relatif rendah dibandingkan sapi impor seperti Brahman Cross dari Australia yang memiliki pertumbuhan lebih cepat dan lebih cocok untuk penggemukan (feedlot).

Selain faktor genetik, keterbatasan pakan dan lahan, serta sistem peternakan rakyat yang masih tradisional turut menjadi kendala dalam meningkatkan produksi sapi lokal.

Kondisi ini diperparah oleh distribusi produksi yang belum merata, sementara permintaan terkonsentrasi di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Di sisi lain, permintaan daging sapi terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kelas menengah. Kebutuhan dari sektor industri makanan, hotel, restoran, dan katering juga mendorong perlunya pasokan yang stabil sepanjang tahun.

Menurut Prof Ronny, ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan tersebut membuat pemerintah masih mengandalkan impor sapi hidup untuk menjaga ketersediaan pasokan daging di dalam negeri.

Namun demikian, ia menilai ketergantungan tersebut perlu dikurangi melalui strategi jangka panjang yang terarah. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penguatan pembibitan sapi lokal seperti sapi Bali dan peranakan Ongole (PO), serta pengembangan riset genetik untuk meningkatkan produktivitas.

Selain itu, pengembangan sistem penggemukan berbasis pakan lokal seperti jagung, singkong, dan limbah pertanian juga dinilai dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi peternakan dalam negeri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.