Kereta Ternak Era 60-an Dihidupkan Lagi, Kementan-KAI Siapkan Gerbong Khusus
📅 Selasa, 12 Mei 2026, 12:11 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama KAI Logistik mendorong reaktivasi angkutan ternak berbasis kereta api. Langkah ini jadi upaya modernisasi distribusi ternak nasional yang lebih efisien dan terintegrasi, sekaligus menghidupkan kembali layanan kereta ternak yang pernah beroperasi rutin era 1960-an hingga awal 2000-an.
KAI Logistik menyiapkan layanan pengiriman hewan ternak menggunakan gerbong khusus hasil modifikasi kontainer. Skema ini dirancang sebagai alternatif distribusi jarak jauh dari sentra produksi ke wilayah konsumen, dengan standar kesejahteraan hewan yang lebih baik dibanding angkutan umum biasa.
Bukan Hal Baru, Kini Lebih Modern
Pelaksana Harian Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH Kementan, Boethdy Angkasa, menyebut moda rel penting untuk memperkuat hilirisasi peternakan.
“Angkutan ternak dengan kereta api sebenarnya bukan hal baru. Dulu pernah berjalan rutin rute Surabaya-Jakarta. Sekarang kita dorong kembali dengan teknologi gerbong dengan standar kesejahteraan hewan yang jauh lebih baik, sesuai Permentan Nomor 32 Tahun 2025,” kata Boethdy di Kantor Kementan Jakarta, Senin (11/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menekankan, kereta api punya keterbatasan karena bergantung jaringan rel. “Karena itu skemanya komplementer. Tetap butuh integrasi truk untuk first-mile dari kandang ke stasiun dan last-mile dari stasiun ke RPH. Sinergi antarmoda ini kuncinya,” jelas Boethdy.
Gerbong Modifikasi
Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, mengatakan pihaknya memodernisasi layanan angkutan ternak yang sempat berhenti. “Kami hadirkan kembali layanan ini dengan gerbong kontainer modifikasi khusus hewan hidup, dilengkapi ventilasi dan fasilitas minum sesuai Permentan 32/2025 diimplementasikan dengan standar yang lebih modern,” ujar Yuskal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tahap awal, pengangkutan direncanakan rute Banyuwangi–Jakarta dengan kapasitas sekitar 280 ekor per rangkaian. Waktu tempuh antartasiun diperkirakan 26 jam. Dengan infrastruktur rel saat ini, perjalanan lebih stabil sehingga bisa mengurangi stres pada ternak.
Aspek kesejahteraan hewan jadi fokus utama, sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan.
Boethdy menegaskan, penguatan distribusi dan hilirisasi peternakan tetap jadi prioritas Kementan. “Distribusi yang kuat akan memperkuat daya saing peternak rakyat sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. Efektivitasnya bergantung pada kelancaran integrasi antarmoda dari hulu ke hilir,” tutupnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!