Ilmuwan AS dan Jepang Raih Nobel Kedokteran untuk Riset Sistem Kekebalan Tubuh
📅 Selasa, 07 Okt 2025, 01:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Jonathan Nackstrand/AFP
STOCKHOLM — Ilmuwan Mary E. Brunkow dan Fred Ramsdell dari Amerika Serikat (AS), serta Shimon Sakaguchi dari Jepang, pada Senin (6/10), dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran atas penelitian mereka tentang bagaimana sistem kekebalan tubuh dikendalikan.
Penemuan ketiganya dinilai sangat penting dalam memahami bagaimana sistem imun berfungsi dan mengapa manusia tidak seluruhnya mengembangkan penyakit autoimun serius.
Dikutip dari AFP, Komite Nobel dari Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyebut penghargaan ini diberikan “atas penemuan mereka mengenai toleransi imun perifer.”
“Penemuan mereka telah meletakkan dasar bagi bidang penelitian baru dan memacu pengembangan pengobatan baru, misalnya untuk kanker dan penyakit autoimun,” ujar pernyataan resmi juri Nobel. Temuan tersebut juga diyakini dapat meningkatkan keberhasilan dalam prosedur transplantasi organ.
Sakaguchi, yang kini berusia 74 tahun, membuat penemuan kunci pertamanya pada tahun 1995. Saat itu, banyak peneliti beranggapan bahwa toleransi imun hanya berkembang karena sel-sel imun berbahaya dihilangkan di timus melalui proses yang disebut toleransi sentral. Namun, Sakaguchi menunjukkan bahwa sistem imun jauh lebih kompleks, dengan menemukan kelas sel imun baru yang melindungi tubuh dari penyakit autoimun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Brunkow (lahir 1961) dan Ramsdell (64) membuat penemuan penting pada tahun 2001 ketika mereka berhasil menjelaskan mengapa tikus tertentu sangat rentan terhadap penyakit autoimun. “Mereka menemukan bahwa tikus tersebut memiliki mutasi pada gen yang mereka beri nama Foxp3,” ungkap juri Nobel. “Mereka juga menunjukkan bahwa mutasi pada gen yang setara pada manusia menyebabkan penyakit autoimun serius yang dikenal sebagai IPEX.”
Dua tahun kemudian, Sakaguchi berhasil menghubungkan kedua penemuan tersebut, memperkuat pemahaman ilmiah mengenai bagaimana tubuh mempertahankan keseimbangan sistem kekebalan.
Ketiga ilmuwan akan menerima diploma, medali emas, dan hadiah uang senilai 1,2 juta dollar AS dari Raja Carl XVI Gustaf pada upacara resmi di Stockholm, 10 Desember mendatang — bertepatan dengan peringatan wafatnya Alfred Nobel pada tahun 1896, pencipta penghargaan bergengsi tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nobel Terbanyak
Para peneliti dari lembaga-lembaga besar AS biasanya mendominasi hadiah Nobel sains, terutama karena investasi jangka panjang AS dalam sains dasar dan kebebasan akademik.
Namun, hal itu dapat berubah di kemudian hari menyusul pemotongan anggaran besar-besaran AS untuk program-program sains yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump.
Sejak Januari, Institut Kesehatan Nasional AS National Institutes of Health (NIH) telah menghentikan 2.100 hibah penelitian dengan total sekitar 9,5 miliar dollar AS, dan kontrak senilai 2,6 miliar dollar AS, menurut basis data independen bernama Grant Watch.
Thomas Perlmann, sekretaris jenderal komite yang menganugerahkan Hadiah Nobel untuk Kedokteran, mengatakan kepada AFP bahwa "bukanlah suatu kebetulan bahwa AS sejauh ini memiliki peraih Nobel terbanyak".
"Namun, kini muncul rasa ketidakpastian yang merayap tentang kesediaan AS untuk mempertahankan posisi terdepan mereka dalam penelitian," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!