Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gunakan Profit dari Batu Bara untuk Akselerasi Transisi Energi

📅 Senin, 04 Jul 2022, 00:03 WIB | Oleh:
Gunakan Profit dari Batu Bara untuk Akselerasi Transisi Energi Doc: Sumber: Kementerian ESDM/KJ/ones/and

JAKARTA - Pemerintah diminta memanfaatkan keuntungan dari ekspor batu bara untuk mengakselerasi transisi energi. Hal itu seiring dengan kenaikan harga acuan batu bara yang mencapai 342 dollar Amerika Serikat (AS).

Manajer Program Tranformasi Energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan keuntungan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor tambang batu bara bisa dialihkan sebagian untuk mendorong transisi energi dengan bertahap guna mengurangi kebergantungan sistem kelistrikan pada PLTU, sekaligus mendorong pengembangan energi terbarukan.

Menurut IESR, kebijakan domestic market obligation/kewajiban pasar domestik (DMO) batu bara telah menciptakan lapang tanding yang tidak seimbang untuk energi terbarukan. "Jika pemerintah tidak menerapkan DMO, harga pembangkitan listrik dari PLTU batu bara dapat mencapai 14-16 sen per kWh apabila mengacu harga batu bara 324 dollar AS per ton," kata Deon.

Deon menegaskan bahwa tanpa dukungan dari regulasi, pembangkitan listrik dari energi terbarukan sudah lebih murah dibandingkan PLTU batu bara.

Menurutnya, kebijakan DMO membuat keekonomian pembangkit energi terdistorsi karena tidak berdasarkan biaya yang sebenarnya. Selain itu memberikan disinsentif bagi perusahaan untuk mengakselerasi energi terbarukan yang lebih murah dan menguntungkan dalam jangka panjang.

Tren Menurun

Lebih lanjut, Deon menyatakan bahwa keekonomian pembangkit energi dihitung dari biaya investasi dan operasi diratakan selama umur pakai atau lifetime. Jika membandingkan energi fosil dan energi terbarukan, harga investasi pembangkit energi terbarukan memang mahal di awal, namun biaya investasi akan menunjukkan tren penurunan yang dapat diprediksi dan diakselerasi dengan dukungan kebijakan yang tepat.

Sementara itu, energi fosil sangat bergantung dengan biaya operasional yang volatilitasnya sangat tinggi. Pemerintah perlu tetap memperhatikan dampak pada biaya pembangkitan listrik, sehingga tarif DMO tidak bisa dicabut begitu saja berhubung PLTU sudah terlanjur dominan di sistem kelistrikan.

Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmi Radhi, mengatakan gagasan menggunakan dana keuntungan batu bara untuk transisi ke energi bersih wajib didukung. Bahkan, pemerintah semestinya tidak hanya mendapat dana royalti, namun juga pajak ekspor sehingga keuntungan tidak hanya sebesar-besarnya untuk pengusaha batu bara, tapi untuk kemakmuran rakyat.

"Penting mengalihkan dana itu untuk anggaran transisi ke energi baru terbarukan sehingga Indonesia tidak ketinggalan lagi dalam pengembangannya dan ke depan bisa energi energi tidak impor lagi," kata Fahmi.

Energi, kata Fahmi, memerlukan sikap politik yang jelas karena pengembangannya memerlukan waktu panjang. Saat ini, Indonesia memiliki keunggulan batu bara, tapi itu tidak akan berlangsung lama, sehingga diperlukan bagaimana kebutuhan energi rakyat saat ini bisa terpenuhi pula di masa depan dengan memulai dari sekarang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merugi, Pemkab Kudus Serahkan Pengelolaan Taman Krida Wisata ke Swasta
    Preview komentar:
    Pemberian masa tenggang atau grace period selama tiga ...
  • Berpotensi Melemah Terbatas, 13 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai pergerakan Rupiah hari ...
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile

Lagi-lagi Pada Hari Kamis Pagi Udara Jakarta Sangat Buruk

55 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Lagi-lagi Pada Hari Kamis P...
Megapolitan
Tramtib Wilayah, Tangerang ...

Per Juli 2026, Arus Petikemas IPC TPK Tembus 2,17 Juta TEUs

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Ekonomi
Per Juli 2026, Arus Petikem...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Wah… Menyedihkan dan juga Memalukan, Pebulu Tangkis Indonesia Diselidiki BWF Diduga Jual Angka   

Wah… Menyedihkan dan juga Memalukan, Pebulu Tangkis Indonesia Diselidiki BWF Diduga Jual Angka  

13 Aug 2026
Pilihan Pembaca
# 8
# 8
Juli Jadi Bulan Terpanas Kedua Dunia
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.