Surplus Perdagangan Menyusut, Ruang Penopang Pertumbuhan Ekonomi Semakin Terbatas
📅 Jumat, 05 Jun 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
YOGYAKARTA - Potensi terjadinya pelebaran defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II-2026 berpotensi mengganggu target pertumbuhan ekonomi Indonesia apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Gadjah Mada (UGM), Mudrajad Kuncoro dari Yogyakarta, Kamis (4/6) mengatakan salah satu penyangga utama stabilitas ekonomi Indonesia selama ini adalah surplus perdagangan yang menghasilkan aliran devisa dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Selama ini penyangga stabilitas ekonomi Indonesia adalah surplus perdagangan. Dengan adanya aliran devisa yang masuk, tentu membantu menjaga nilai tukar rupiah,” kata Mudrajad.
Kenaikan harga minyak dunia jelasnya telah mendorong peningkatan impor migas, sehingga mempersempit surplus perdagangan Indonesia. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, ruang untuk menopang pertumbuhan ekonomi akan semakin terbatas.
Mudrajad menyebut terdapat tiga dampak utama yang perlu diwaspadai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertama, tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan meningkat karena kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi menjadi semakin besar.
Kedua, kenaikan biaya energi akan mendorong naiknya biaya produksi dan logistik di dalam negeri sehingga menekan daya saing industri nasional. Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena Indonesia belum berhasil mengatasi fenomena deindustrialisasi dini yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Indikatornya adalah menurunnya kontribusi sektor industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Paling tinggi pernah sekitar 32 persen, sekarang tinggal sekitar 19 persen,” katanya.
Ketiga, pemerintah akan menghadapi tekanan fiskal yang semakin besar apabila harga minyak dunia terus meningkat karena kebutuhan subsidi energi juga berpotensi bertambah.
Di tengah kondisi tersebut, Mudrajad menilai Indonesia masih menghadapi paradoks energi. Di satu sisi Indonesia merupakan negara penghasil minyak dan gas, namun di sisi lain masih sangat bergantung pada impor BBM dan LPG.
“Selama ketergantungan itu belum berkurang, setiap gejolak harga minyak dunia akan langsung menjadi sumber tekanan dan gangguan bagi ekonomi nasional,” katanya.
Jangan Lengah
Ketika defisit transaksi berjalan melebar, Indonesia menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global, kenaikan suku bunga internasional, serta arus keluar modal asing.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih kuat dibandingkan saat krisis moneter 1997-1998, krisis keuangan global 2008, maupun pandemi Covid-19 pada 2020.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!