Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Cegah Paparan Hantavirus, Periset BRIN Minta Masyarakat Jaga Kebersihan Lingkungan

📅 Selasa, 12 Mei 2026, 11:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Cegah Paparan Hantavirus, Periset BRIN Minta Masyarakat Jaga Kebersihan Lingkungan Doc: CNA
Ket. Tikus-tikus mengais-ngais di tumpukan sampah di pasar malam Taipei, Taiwan.

JAKARTA - Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arief Mulyono meminta kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah paparan Hantavirus.

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar.

"Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti Hantavirus. Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar," kata Arief dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Arief mengatakan masyarakat perlu menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.

"Area tersebut sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara," lanjut dia.

Arief juga mengungkapkan sejumlah kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar Hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

"Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus," ujarnya.

Lebih lanjut, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Ristiyanto menjelaskan beberapa jenis tikus yang diketahui dapat menjadi reservoir Hantavirus antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar yang hidup di area permukiman, pertanian, maupun hutan.

Salah satu jenis Hantavirus yang banyak dibahas adalah Andes virus, ditemukan pada tikus liar (Oligoryzomys longicaudatus) spesies umum ditemukan di kawasan Patagonia, Argentina dan Chile. Virus ini diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu infeksi paru berat yang berpotensi menimbulkan gagal napas akut.

"Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi," ungkap dia.

Ristiyanto memaparkan gejala awal infeksi Hantavirus sering menyerupai influenza seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan. Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis dini kerap terlambat dilakukan.

Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Ristiyanto menyebutkan bahwa tingkat kematian akibat HPS tergolong tinggi, yakni berkisar 20–35 persen. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap paparan rodensia dan deteksi dini menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit ini.

Terpisah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan belum ada bukti penularan Hantavirus dari tikus ke manusia di Indonesia sejak virus tersebut ditemukan di tanah air pada 1991.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.